Tari Adat, Budaya, Pengetahuan

Tari Kinyah Mandau : “Menari sebelum membunuh.”

Tari Kinyah Mandau

sumber : berita satu ; Para penari menampilkan tarian Kinyah Mandau yang berasal dari Kalteng di Pantai Amal Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (27/11). Untuk menciptakan masyarakat Tarakan yang damai di Kalimantan Utara, masyarakat dayak mengadakan pertunjukan ritual ÒbekeparatÓ dengan menampilkan seni tari dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Fadlansyah/pd/15.

Tari Kinyah Mandau. Di daerah Kalimantan Tengah seni bela diri bukan hanya untuk melindungi diri dari sesuatu yang membahayakan diri kita. Tetapi juga menjadi ajang untuk mempertunjukan tarian adat yang memiliki gerakan-gerakan yang indah dan cenderung berbeda dengan tarian tradisional dari daerah-daerah lain. Tarian ini biasa masyarakat kenal juga dengan nama Tari Kinyah Mandau.

Persebaran Suku Dayak hampir merata di daerah Kalimantan. Karena persebaran wilayah yang luas dan dengan kondisi alam yang berbeda-beda, membuat Suku Dayak memiliki kekayaan budaya yang berlimpah dan tidak terhitung jumlahnya.

Kekayaan budaya dari Suku Dayak hampir menyebar luas di seluruh wilayah Kalimantan. Salah satu kekayaan yang dapat kita ketahui  adalah kekayaan budaya yang berasal dari provinsi Kalimantan Tengah.

Tari Kinyah Mandau merupakan salah satu tarian yang berasal dari suku Dayak yang menampilkan unsur bela diri, seni teatrikal, dan seni perang dengan memadukan beberapa unsur tersebut dan membuat gerakan- gerakan yang indah. Tarian ini sangat terkenal, hampir semua suku Dayak di Kalimantan memiliki tarian jenis ini. Terutama di Kalimantan Tengah, disini tarian tersebut biasa dikenal dengan Tari Kinyah mandau.

Nama Tari Kinyah Mandau berasal dari kata kinyah yang memiliki arti tarian perang dan menggunakan mandau sebagai senjata pamungkasnya.

Tari Kinyah Mandau : "Menari sebelum membunuh." 1

sumber : cinta indonesia. tari Kinyah Mandau, menari sebelum membunuh

Sejarah Tari Kinyah Mandau

Tarian ini dalam kisahnya berawal dari tradisi suku Dayak jaman dahulu yang biasa disebut kinyah, yang berarti tarian perang sebagai persiapan untuk membunuh dan menargetkan untuk memburu kepala musuh.

Pada masa itu para pemuda suku Dayak harus melakukan pemburuan kepala untuk berbagai alasan atau keperluan yang berbeda di setiap sukunya, sebagai persiapan fisik untuk pemburuan itu maka para pemuda melakukan kinyah atau yang memiliki arti tarian perang. Mungkin di masyarakat jaman sekarang kanyah disamakan dengan gladiresik sebelum dilakukan pementasan yang sesungguhnya.

Tari Kinyah Mandau : "Menari sebelum membunuh." 2

sumber : saya inngin tahu ; pemuda suku dayak yang memegang kepala buruannya

Hampir semua sub suku Dayak memiliki tarian perang ini. Dulunya tarian ini dipertunjukan dan langsung dilihat oleh seluruh warga kampung, untuk mengamati dan melihat pemuda mana yang cocok dan siap di lepas ke medan perang untuk memburu kepala siapa saja yang ditemuinya. Namun mereka tidak boleh memburu  kepala orang yang berasal dari kampungnya sendiri.

Asal usul Tari Kinyah Mandau

Pada masa itu ada berbagai istilah yang ditakuti oleh masyarakat sekitar salah tiganya adalah hakayau (saling potong kepala), hapini (saling bunuh), dan hajipen (memperbudak). Pada masa itu hukum rimba sangat berlaku di masyarakat, bahwa yang kuatlah yang selalu berkuasa.

Setiap anak laki-laki yang berhasil membunuh dan mendapatkan kepala manusia akan dicap menjadi anak yang sudah beranjak dewasa dan akan diberi tato di bagian betisnya untuk menandakan bahwa dia sudah menjadi dewasa.

Baca Juga ya :

Tari Kinyah Mandau : "Menari sebelum membunuh." 3

sumber : good news from Indonesia ; para pemuda Dayak menarikan Tari Kinyah Mandau

Suku Dayak Ngaju zaman dahulu memiliki alasan lain untung melakukan hakayau atau mengayau. Mereka melakukan mengayau untuk keperluan acara adat “Tiwah”. Tiwah atau upacara membersihkan tulang belulang leluhur untuk diantar ke surga bagi kepercayaan mereka.

kepala manusia yang sudah didapatkan akan di gantung di tempat pusat acara tiwahnya, kemudian di kuburkan di dekat sandung atau juga rumah kecil tempat menaruh tulang belulang leluhur yang ditiwahkan dan jika orang yang dibunuh memiliki budak maka budak tersebut harus di bunuh juga.

Akhir masa pemburuan kepala

Tradisi pemburuan kepala ini berakhir pada saat setelah perjanjian damai Tumbang Anoi yang terjadi sekitar tahun 1894. Proses terjadinya perjanjian damai ini, para pemimpin dari berbagai belahan suku Dayak bertemu dan melakukan perjanjian perdamaian bersama.

Yang membuat suku Dayak terpecah belah pada saat itu adalah karena ada rasa curiga antar suku. Maka dari itu setelah perjanjian selesai setiap suku harus menunjukan gerakan anyarnya dalam memburu kepala musuh dan setiap sub suku lain dapat melihatnya, agar tidak ada lagi rasa curiga antar suku. Sejak saat itu sekat rahasia, curiga antara sub suku Dayak sempurna di tuntuhkan.

Ketika perjanjian damai ini suku Dayak Oot Danum membawakan gerakan anyar memburu kepalanya, karena masyarakat mengenal suku ini memiliki teknik berbahaya untuk membunuh musuhnya.

Tari Kinyah Mandau : "Menari sebelum membunuh." 4

sumber : pakat dayak ; perjanjian Tumbang Anoi,

Peristiwa Peristiwa Tumbang Anoi ini kemudian menginspirasi lahirnya sebuah tari kreasi yang bernama tari Pangkalima Tumbang Anoi, yang secara singkat menyampaikan pesan perdamaian dan persatuan yang membuat masyarakat maju dan sejahtera.

Kinyah pada masa sekarang

Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan jaman tradisi ini sempurna ditinggalkan, namun jurus anyar yang digunakan untuk berperang atau kinyahnya masih menjadi tradisi suku Dayak dan kemudian dikembangkan menjadi tarian adat suku Dayak. Diadaptasi dari kinyah sebelumnya yang sarat akan kekerasan dengan serangan yang membahayakan, tarian ini di ubah menjadi sarana kesenian dan hiburan bagi masyarakat.

Dalam perkembangannya, gerakan pada tarian ini di modifikasi sedemikian rupa dengan berbagai variasi gerakan tari dan unsur teatrikal yang menggambarkan jiwa dan semangat keberanian suku Dayak pada zaman dahulu. Dengan gerakan yang gesit seakan ingin memburu musuh, menjadikan tarian ini terlihat sangat mengagumkan jika di pentaskan.

Baca Juga ya :

Tari Kinyah Mandau

sumber : merah putih ; penari tarian Kinyah Mandau tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan

Penari Tari Kinyah Mandau tidak hanya lelaki tetapi juga perempuan. Setiap penari dilengkapi senjata berupa Mandau dan Talawang (perisai).

Tarian ini dapat ditemukan di berbagai acara kebudayaan di Kalimantan Tengah seperti untuk menyambut tamu besar dan acara festival budaya. Tari ini juga terkenal sampai keluar negeri loh, luar biasa bukan. Kita sebagai masyarakat yang baik harus melestarikan Tari Kinyah Mandau ini dengan sebaik mungkin agar tidak diklaim oleh negara lain yang tidak bertanggung jawab

 

Leave a Reply