Budaya, Tari Adat

Asal Usul Dan Sejarah Singkat Tari Kuda Lumping Yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

tari kuda lumping

Tari kuda lumping. Gambar oleh Wikipedia

Tari Kuda Lumping termasuk tari yang sangat familiar bagi kita. Tapi walaupun seperti itu, apakah kamu tahu sejarah Tari Kuda Lumping itu?

Sesuai dengan namanya, Tari Kuda Lumping adalah jenis tarian yang penarinya menunggangi kuda. Namun tentu saja bukan kuda asli melainkan kuda mainan yang terbuat dari anyaman bambu.

Tari Kuda Lumping dikenal juga dengan tarian Jathilan atau Jaran Kepang yang merupakan tarian asal Ponorogo. Namun walaupun seperti iu, banyak artikel tentang Tari Kuda Lumping yang menjelaskan bahwa tarian ini juga terdapat di banyak tempat.

Anyaman bambu yang dibuat menyerupai kuda yang dipakai dalam Tari Kuda Lumping ini dibuat sedemikian rupa dan dihias agar menyerupai kuda sebenarnya. Diberikan tali yang terbuat dari tali plastik yang di kepang sebagai tali pengekang akan membuat kuda anyaman ini semakin mirip dengan kuda asli. Tali plastik yang di kepang tadilah yang menjadikan Tari Kuda Lumping dikenal dengan nama Jaran Kepang.

Makna Tari Kuda Lumping

Makna Tari Kuda Lumping – foto youtube moncochanel

Sedangkan kata Jathilan, bagi masyarakat Magelang berasal dari kata ‘jath’ yang bermakna banyak atau amat, dan ‘thil-thilan’ yang bermakna gerak. Jika dihubungkan dan dalam terjemahan bebas, maka kata Jathilan bermakna Banyak Gerak seperti kuda yang sangat sering bergerak.

Tari Kuda Lumping merupakan bagian dari pagelaran tari Reog Ponorogo. Konon, tarian ini juga diwariskan oleh masyarakat jawa yang menetap didaerah luar jawa seperti Sumatera, Malaysia, sampai dengan Hongkong, Suriname, dan Amerika.

Tari Kuda Lumping, Tarian Kesurupan

Jika membicarakan Tari Kuda Lumping maka satu hal yang biasanya melekat dipikiran banyak orang adalah mistis. Ini karena kabanyakan pagelaran Tari Kuda Lumping selalu menyuguhkan atraksi yang sangat sarat dengan kekuatan magis.

Di beberapa daerah memang biasanya sebelum pagelarann tarian ini dimulai selalu ada sesi pembakaran daun kemenyan dan beberapa sesaji lainya. Dan jika sudah seperti ini, biasanya atraksi selanjutnya akan ada banyak atraksi yang susah diterima akal sehat.

Sebut saja atraksi memakan beling. Tidak ada orang normal yang bisa makan beling dengan nikmat tanpa terluka. Begitu juga atraksi deraan pecutan yang diberikan kepada para penari yang sama sekali tidak merasa kesakitan ataupun terluka.

Sejarah Tari Kuda Lumping

Walaupun merupakan tarian asli tanah Jawa, namun Tarian Kuda Lumping dikenal di banyak tempat. Seperti sejarah Tari Kuda Lumping Jawa Tengah yang mengatakan bahwa tarian ini sudah ada sejak masa purbakala.

Tari Kuda Lumping

Tari Kuda Lumping – foto detiknews

Awalnya Tari Kuda Lumping digunakan sebagai sarana pelaksanaan upacara yang sakral dan bersifat magis. Pada saat itu, tarian ini hanya menggunakan kostum dan gerakan tari yang sangat sederhana. Tapi kini, karena perkembangan zaman, kostum ataupun gerakan tari juga ikut berkembang menjadi lebih bervariasi.

Dari segi cerita, sebenarnya Tari Kuda Lumping merupakan jenis tari peperangan yang melibatkan banyak orang. Ada yang berkuda, ada yang berjalan kaki namun bertopeng yang berperan sebagai Penthul, Bejer, Cepet, Genderuwo dan Barongan.

Baca juga:

Pertunjukan Tari Kuda Lumping

Dalam sebuah pertunjukan Tari Kuda Lumping biasanya mampu melibatkan sampai 35 orang yang terdiri dari 20 orang penari, 10 orang pemain musik, 2 orang pembantu umum, 2 orang penjaga keamanan, dan 1 orang koordinator lapangan.

Penari digambarkan sebagai seorang prajurit yang hendak pergi berperang sehingga dalam tarian mereka menggunakan properti kuda dan pedang mainan. Sedangkan Penthul atau Bancak digambarkan sebagai pelawak yang akan menghibur para prajurit yang sedang beristirahat.

tari kuda lumping

Tari kuda lumping. Gambar oleh Wikipedia

Walaupun melibatkan banyak orang namun jumlah tersebut tidaklah sama di setiap daerah. Seperti misalnya kelompok-kelompok Jathilan di Magelang yang memiliki jumlah tersendiri pada saat penyelenggaraan. Mereka memiliki beberapa peran tambahan seperti Wanara, Bugisan, Brasak, Menu Tembem, Cakil, dan sebagainya yang memiliki peran tersendiri yang mungkin tidak akan ditemui di Tari Kuda Lumping daerah lain.

Baca juga: Tari Kuntulan,  Seni Tari Khas Banyuwangi Yang Fantastis Dari Zaman Ke Zaman

Fungsi  dan Makna Tari Kuda Lumping

Seperti sudah dijelaskan, pada awalnya Tari Kuda Lumping hanya digelar pada saat upacara yang bersifat sakral dengan garakan yang sangat sederhana. Namun kini sudah ada perubahan dimana pagelaran Tari Kuda Lumping sudah mudah ditemui.

Tari Kuda Lumping kini sudah banyak digelar pada saat pertunjukan seni. Baik di tempat khusus ataupun di tempat-tempat umum terbuka. Tidak hanya sifatnya, tapi seluruh bagian yang ada di Tari Kuda lumping juga mengalami banyak perubahan.

Mulai dari kostum penari yang makin modern, gerakan tari yang semakin energik dan dinamis, serta lantunan musik yang juga makin beragam.

 

Leave a Reply