Budaya, City Tour, Kuliner, Tari Adat

Mengenal Kota Pasarwajo Kabupaten Buton

Mengenal Kota Pasarwajo Kabupaten Buton 1

Source: detikTravel

Pasarwajo merupakan salah daerah di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Merupakan pusat administrasi sekaligus ibukota Kabupaten Buton, Pasarwajo memiliki banyak industri laut. Nama “wajo” sendiri diambil dari nama Suku Wajo, yaitu suku yang hidup dari hasil laut. Pasarwajo memiliki banyak pesona yang belum banyak terekspos oleh masyarakat nonlokal. Yuk, kita berkenalan dengan kota yang terkenal dengan ikannya yang lezat ini!

Benteng Lipuogena, Bentuk Persatuan Masyarakat Tempo Dulu

Mengenal Kota Pasarwajo Kabupaten Buton 2

source: situsbudaya.id

Pada masa sebelum Kesultanan Buton, ada sembilan kampung kecil yang hidup menyebar searah mata angin di sekitar mata air Ee Mata. Kesembilan kampung tersebut kemudian bersatu atas usaha seorang tokoh bernama La Djibara. Mereka kemudian disebut dengan masyarakat Takimpo, yang berarti perkumpulan. Merekalah yang kemudian mendirikan Benteng Lipuogena. Tujuan didirikannya benteng ini adalah melindungi permukiman dari serangan binatang buas maupun musuh. Yang menarik adalah orang pertama yang membangun benteng ini ternyata seorang wanita bernama Wa Gindi. Di dalam benteng ini terdapat galampa atau tempat adat. Fungsinya adalah sebagai tempat dilakukannya pesta kampung.

Kongkow di Tepi Sungai Berdinding Biru

Mengenal Kota Pasarwajo Kabupaten Buton 3

source: SultraKini.com

Berada di Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Kali Biru sekarang menjadi tempat nongkrong anak muda dan masyarakat sekitar. Dinamakan Kali Biru karena dinding kali tersebut dicat dengan warna biru cerah. Sebelumnya, tempat ini bernama Kalilakua atau dalam bahasa setempat “Pocu Lakua” yang artinya kepala berambut putih. Kali Biru sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Yang unik dari kali ini adalah jika air laut sedang pasang, maka air kali ini terasa asin, sedangkan jika tidak akan tetap terasa tawar.

Kamu cukup menempuh perjalanan sekitar 40 menit untuk sampai di Kali Biru dari daerah Baubau. Jalan menuju Kalibiru dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Baca juga:

Menonton Festival Budaya Tua Buton

Festival Pesona Budaya Tua Buton yang diselenggarakan setiap tahun menarik minat banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam festival ini, warga lokal memamerkan sekaligus memperagakan pembuatan kerajinan tangan khas Buton, misalnya menenun kain. Pada puncak acara, akan diselenggarakan berbagai ritual adat serta tarian yang dilakukan oleh banyak orang (tari kolosal), di antaranya adalah Tari Ponare, Tari Badenda, dan Tari Alionda.

Selain itu, wisatawan juga akan diajak mengunjungi tempat penyulingan gula aren untuk menyaksikan alat suling dari bambu yang setiap ruasnya dilekatkan dengan getah pohon. Konon, alat penyulingan tersebut telah dilakukan oleh nenek moyang mereka sejak abad ke-16.

Tari Ponare, Badenda, dan Alionda: Tarian Kolosal dari Buton

Festival Pesona Budaya Tua Buton adalah salah satu ajang untuk mempertunjukkan tiga tarian kolosal asal Buton ini; Tari Ponare, Tari Badenda, dan Tari Alionda. Tari Ponare adalah sebuah tarian perang yang menggambarkan aktivitas mempertahankan daerah dai musuh. Poperti yang digunakan oleh para penari Tari Ponare adalah tombak dan perisai dari kayu. Yang kedua yaitu Tari Badenda, yang merupakan lambang kegembiraan masyarakat. Gerakan tarian ini lincah diiringi pukulan gendang. Tari Badenda melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang melimpah. Kemudian yang terakhir adalah Tari Alionda, sebuah tarian yang menggambarkan kegembiraan. Alionda berasalh dari bahasa Kulisusu yang berarti kebersamaan dan kegotongoyongan. Pada masa lampau, Alionda awalnya hanya sebagai pelampiasan masyarakat yang lelah bekerja di bawah tekanan Belanda dan berkeluh kesah satu sama lain. Mereka kemudian saling berpegangan tangan sambil menari bersama. Di kemudian hari, kebiasaan itu berkembang menjadi sebuah tari tradisional yang bernama Tari Alionda.

Kopi Kaongkeongkea yang Harumnya Tercium dari Jauh

Seperti namanya, kopi ini berasal dari desa Kaongkeongkea. Kopi kaongkeongkea merupakan produk pertanian yang telah berhasil sejak tahun 1950-an. Hingga pada tahun 1980-an usaha perkebunan kopi masyarakat Kaongkeongkea semakin melimpah ruah. Kopi kaongkeongkea merupakan organik yang tidak menggunakan penyemprot hama. Yang menjadi ciri khas kopi ini adalah aromanya yang ketika dituangi ai mendidih akan tercium walau dari jarak yang jauh.

Lezatnya Ikan Parende, Sajian Ikan dari Buton

Mengenal Kota Pasarwajo Kabupaten Buton 4

Budaya-Indonesia.org

Parende atau masak kuah kuning adalah kuliner khas Buton. Masakan ini berbahan utama ikan sunu atau kerapu yang dimasak dengan bumbu khas dan minimalis. Biasanya orang daerah setempat menyebutnya parende ikan. Parende ikan merupakan masakan wajib di setiap acara adat. Kalau kamu ingin mencoba masakan ini, datanglah ke RM. Wangi Wangi yang terletak di perbatasan antara Pasarwajo dan Wakoko. Rumah makan ini cukup terkenal dan merupakan rekomendasi dari warga setempat.

Itulah ulasan tentang Kota Pasarwajo, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Buton. Selain memiliki banyak pesona alam, ternyata Pasarwajo juga memiliki banyak kuliner khas dan juga kaya akan budaya. Apakah kamu tertarik untuk berlibur ke sini?

Baca juga: Makanan Khas Sulawesi Tenggara

Leave a Reply