Inilah 5 Upacara Adat Bengkulu yang masih sering Dilakukan - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Budaya, Pengetahuan

Inilah 5 Upacara Adat Bengkulu yang masih sering Dilakukan

tabot, upacara adat bengkulu

tabot, upacara adat bengkulu

Upacara Adat Bengkulu – Sampai saat ini, masyarakat Bengkulu masih melakukan serangkaian upacara tradisional yang dapat digolongkan sebagai siklus hidup dan upacara tradisional lainnya yang berkaitan dengan kegiatan kehidupan masyarakat.

Memang, upacara adalah warisan tradisi leluhur yang didasarkan pada kepercayaan asli mereka, tetapi saat ini implementasinya telah dikombinasikan dengan ajaran Islam sebagai agama mereka.

Namun demikian, itu tidak mengubah nilai-nilai budaya berdasarkan tradisi lama.

Beberapa upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Bengkulu mengenai kegiatan sehari-hari mereka adalah seperti berikut.

1. Tabot

tabot, Upacara Adat Bengkulu

tabot, Upacara Adat Bengkulu – Sumber : bekabar

Upacara Adat Bengkulu yang masih sering diadakan hingga sekarang adalah acara Tabot. Tabot ini adalah upacara berkabung setelah kematian Syaid Agung Husein Bin Ali Bin Abi Thalib, salah satu cucu dari Nabi Muhammad.

Inti dari upacara ini adalah untuk memperingati upaya dan upaya para pemimpin Syiah dan orang-orang mereka yang berusaha untuk mengumpulkan bagian tubuh Hussein.

Setelah mengumpulkan seluruh bagian tubuhnya, mereka dimakamkan dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung 10 hari, dari tanggal 1 hingga 10 hari Muharram.

Tahapan upacara Tabot adalah: Ambil Tanah, Duduk Penja, Menjara, Meradai, Penak Arak, Serban Arak, Gam (masa damai / berkabung) dan Gedang Arak dan Tabot terbuang.

baca juga ;

2. Kedurai Agung

Kedurai agung, Upacara Adat Bengkulu

Kedurai agung, Upacara Adat Bengkulu – Sumber : radarkepahiang

Kedurai Agung adalah salah satu Upacara Adat Bengkulu yang masih sering diadakan oleh warga bengkulu.

Tradisi ini adalah acara turun temurun yang dipraktikkan oleh masyarakat adat Rejang untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

Dengan berkomunikasi, masyarakat akan meminta leluhur mereka untuk melindungi mereka dari berbagai bencana. Baik bencana alam, penyakit dan serangan hama, dan penyakit ternak dan tanaman.

Banyak bahan dan alat yang dibutuhkan. Sebagai benang 3 warna, mis. Hitam, merah dan putih pada 3 rentang tangan, ditambah 3 jari orang tua 9 kali dan digulung. Lime 99, 99 mol mangkok. 3 bunga berwarna-warni termasuk cempaka, embun, dan melati. Daun sirih sudah matang dan mentah, masing-masing 9 daun.

Beras dengan kunyit 198 buah untuk pembibitan dan 19 buah untuk pengorbanan. 3 bagian batang bambu, salah satunya diisi dengan air kelapa dan keduanya diisi dengan santan.

Darah, hati, dan jantung dari ayam berusia 2 bulan. Bagian hati dan hati dimasak. 1 punjung nasi dengan kunyit dan 9 kue sabai besar dan 99 kue sabai kecil.

Leave a Reply