Sejarah Dan Makna Tari Bedhaya Ketawang - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Budaya, Tari Adat

Sejarah Dan Makna Tari Bedhaya Ketawang

Tari Bedhaya Ketawang

Sejarah Dan Makna Tari Bedhaya Ketawang – Tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian tradisional dari Surakarta, Jawa Tengah, sama seperti Tari Bondan.

Tarian ini mengandung tuntutan pendidikan filsafat disampaikan melalui ekspresi, gerak, irama dan rasa dari para penarinya.

Dikatakan para penari Bedhaya harus punya 2 syarat, yakni yang pertama mengenal cerita rakyat dan legenda, sajak serta pengetahuan mengenai lakon utama.

Selanjutnya yang kedua, mereka harus akrab juga soal sejarah tanah air, makna dari setiap intonasi dan naik turun gamelan, pada dasarnya semua hal dalam cerita kuna.

Penasaran soal sejarah dan makna Tari Bedhaya Ketawang?

Berikut ini ada ringkasan mengenai sejarah dan makna Tari Bedhaya Ketawang yang bisa kamu pelajari.

 

Sejarah Dan Makna Tari Bedhaya Ketawang

  • Sejarah Tari Bedhaya Ketawang

Sejarah Dan Makna Tari Bedhaya Ketawang 1

Foto: christoopherlee

Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian kebesaran hanya dipentaskan saat penobatan ataupun Tingalan Dalem Jumenengan Sunan Surakarta, yakni upacara peringatan kenaikan tahta raja.

Sejarah dan makna Tari Bedhaya Ketawang, nama tarian ini sendiri berasal dari kata bedhaya yang memiliki arti penari wanita di istana, sedangkan ketawang artinya langit atau identik dengan sesuatu yang tinggi, luhur dan mulia.

Tarian khas Bedhaya menjadi sebuah tarian yang sakral nan suci sebab menyangkut Ketuhanan Terdapat beberapa versi sejarah awal tarian ini, berikut ini di antaranya:

1. Menurut R.T Warsadiningrat

Menurut R.T Warsadiningrat, yakni seorang abdi dalem niyaga keraton Surakarta, Tari Bedhaya pada awalnya dibawakan oleh 7 orang penari. Kemudian, Kanjeng Ratu Kidul menambahkan 2 orang penari sehingga penari menjadi 9 orang.

Tari Bedhaya diciptakan oleh Bathara Guru tahun 167 menurut R.T Warsadiningrat. Formasi awal adalah 7 orang dan mereka menarikan tarian Lenggotbawa mengikuti iringan Gamelan berlaras pelog pathet lima.

2. Menurut GPH.Kusumadiningrat

Menurut GPH. Kusumadiningrat Tari Bedhaya Ketawang idiciptakan oleh Bathara Wisnu ketika duduk di Balekembang Kahyangan Utarasegara.

Berawal dari tujuh buah permata indah yang dipuja kemudian berubah wujud jadi tujuh bidadari. Para bidadari tersebut selepasnya menari mengitari Bathara Wisnu dari arah kanan.

3. Menurut Sultan Pakubuwana X

Menurut Sultan Pakubuwana X Tari Bedhaya Ketawang merupakan lambang cinta Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Kencana Sari) pada Panembah Senapati, raja kesultanan Mataram ke-1, saat beliau bermunajat di Pantai Parangkusuma.

Semua gerakan tariannya menggambarkan bujuk rayu tetapi selalu ditolak oleh Panembahan Senapati.

Maka dari itu, Ratu Kidul pun memohon kepada Panembahan Senapati agar tidak pergi dan tinggal di Samudera Kidul serta bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana.

Meskipun Panembahan Senapati tidak menuruti kehendak Ratu Kidul, sebagai gantinya sang panembah berkenan memperistri Ratu Kidul secara turun – temurun. Ini pun berlaku sebaliknya.

Apabila Panembahan Senapati dan seluruh raja Dinasti Mataram ataupun keturunannya menyelenggarakan pergelaran Tari Bedhaya Ketawang, Ratu Kidul dimohon untuk menyambangi daratan untuk mengajarkan tarian ini kepada para abdi dalem bedhaya (penari keraton).

4. Menurut Sri Sekar Setyosih, S.Kar., M.Sn. (Dosen Prodi Seni Tari ISI Surakarta, 2017)

Mengacu pada kitab Wedhapradangga, Tari Bedhaya Ketawang diciptakan oleh seorang Sultan Agung Hanyakrakusuma, yakni seorang raja kesultanan Mataram ke-4.

Sultan Agung yang ketika itu sedang bersemedi tiba – tiba mendengar sayup suara tiupan angin mengenai angkup (sejenis binatang yang berterbangan).

Namun ternyata suara yang didengarnya ini lebih mirip suara kemanak Gamelan Lokananta (gamelan khayangan). Dari iringan gamelan tersebut, lalu terdengar senandung gaib menyuarakan lagu indah yang agung nan berwibawa.

Saking terpesonanya, Sultan Agung Hanyakrakusuma pada pagi harinya memanggil para empu karawitan untuk membuat gendhing berdasarkan kejadian yang dialaminya tersebut.

Konon saat proses pembuatan gendhing, Sultan Agung Hanyakrakusuma didatangi secara gaib oleh Sunan Kalijaga dan mengatakan turut berbahagia.

Sunan Kalijaga juga menyatakan bahwa karya tersebut nantinya akan jadi pusaka luhur para raja Dinasti Mataram dari keturunan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Leave a Reply