Tari Adat

Asal Usul & Sejarah Tari Tulang Bawang

Tari Bedayo Tulang Bawang

Tari Bedayo Tulang Bawang - photo credit: jejamo.com

Asal Usul dan Sejarah Tari Tulang Bawang – Tari Tulang Bawang atau yang lebih dikenal dengan Tari Bedayo Tulang Bawang adalah tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Lampung memang dikenal memiliki keragaman adat istiadat dan budaya yang unik.

Terlebih dalam bidang kesenian yang memiliki perkembangan paling pesat. Tentu hal ini tidak terlepas dari keberfungsiannya yang sangat penting bagi masyarakat adat Lampung. Kesenian di sana difungsikan sebagai bagian yang penting dalam upacara adat dan acara-acara sakral lainnya.

Tarian asli Lampung ini diperkirakan telah ada sejak aba ke-14 silam. Istilah Bedayo dalam nama tarian Bedayo Tulang Bawang ini berasal dari pengucapan orang Suku Menggala untuk menyebut budaya. Sementara, Tulang Bawang tentu saja mengacu pada nama daerah lahirnya tarian ini, yaitu Kabupaten Tulang Bawang.

Baca juga ya:

Berdasarkan catatan literatur, Tari Bedayo Tulang Bawang lahir dan berkembang dari Kampung Bujung Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.

Awal mulanya tarian tradisional ini difungsikan sebagai sarana pemujaan kepada para dewa. Setelah beberapa waktu berlalu, tarian ini dijadikan sebagai identitas budaya Kabupaten Tulang Bawang yang sering ditampilkan dalam penyambutan tamu-tamu penting daerah. Sehingga, tidak salah apabila tarian ini disebut dengan tarian selamat datang.

Sejarah Tari Bedayo Tulang Bawang berasal dari Legenda Suku Menggala

Tari Tulang Bawang

Tari Tulang Bawang – photo credit: travelerian.com

Tidak ada catatan resmi mengenai sejarah Tari Bedayo Tulang Bawang ini. Yang menjadi sumber utama kisah lahirnya tarian ini adalah legenda yang berkembang di tengah masyarakat Suku Menggala.

Menurut perkiraan para seniman, tarian ini terdapat di akhir masa Kerajaan Tulang Bawang pada abad ke-14 Masehi. Kerajaan Tulang Bawang adalah salah satu kerajaan di Lampung yang mendapat pengaruh besar dari agama Hindu – Budha.

Dari cerita yang berkembang di tengah masyarakat Suku Menggala, tarian ini awalnya muncul karena adanya wabah penyakit Taun yang melanda Kampung Bujung Menggala dan memakan banyak korban jiwa, yaitu warga di Kampung Bujung Menggala.

Penyakit Taun adalah sebutan untuk cacar mematikan yang menurut masyarakat pada saat itu disebabkan oleh setan atau makhluk halus. Banyak usaha yang telah dilakukan masyarakat. Tetapi, wabah tersebut terus menjangkiti warga dan menewaskan sebagian besar warga yang terjangkit.

Dalam catatan-catatan itu disebutkan pula terdapat seorang tokoh kampung yang disegani oleh masyarakat bernama Menak Sakawira. Melihat wabah yang telah menewaskan banyak warga Kampung Bujung Menggala, ia berinisiatif untuk menyepi dan bertapa di tanah berundak yang disebut tambak di kampung tersebut, selama 9 hari penuh.

Pertapaan tersebut ia maksudkan untuk memohon kepada Dewa Siwa agar kampungnya segera diselamatkan dari wabah tersebut. Kemudian, usaha menak Sakawira tersebut menghasilkan wangsit yang memerintahkan agar ia mengadakan sebuah upacara adat untuk memotong kambing hitam, dengan diiringi oleh tarian sakral.

Menurut wangsitnya, tarian sakral tersebut harus dilakukan oleh 12 penari perempuan yang masih belia dan belum mengalami masa haid. Serta dengan diiringi oleh gamelan klenongan, yang terdiri atas gong, kempul, kendang dan kulintang.

Wangsitnya ini kemudian disampaikan kepada para tetua adat dan masyarakat desa. Akhirnya, disepakatilah wangsit tersebut untuk dijalankan. Sehingga, upacara adat pun diselenggarakan. Tarian dipentaskan, menghadap ke timur sesuai adat istiadat Tulang Bawang.

Arah timur dimaknai sebagai awal munculnya cahaya matahari yang merupakan cahaya yang menerangi dunia. Matahari merupakan hal fundamental untuk kehidupan manusia, sebagai sumber energi untuk beraktivitas.

Lambat laun, pertunjukan Tari Bedayo Tulang Bawang menjadi tradisi karena tiap purnama dipentaskan di Candi Gughi.

Saat bangsa Portugis datang ke Lampung, kemudian masuk wilayah Tulang Bawang, mereka sering melihat tarian ini. Mereka menyebutnya sebagai kebudayaan orang Menggala di Tulang Bawang. Dari sinilah, Suku Menggala kemudian menyebut tarian ini dengan nama Tari Bedayo Tulang Bawang.

Tari Tulang Bawang

Tari Tulang Bawang – photo credit: tulangbawanglampung.blogspot.com

Bertahun-tahun berlalu, banyak orang-orang dan anak-anak bangsawan mempelajari tarian ini. Misalnya, Ratu Dandayanti yang merupakan seniman asal Lampung yang sering menari di Istana Negara pada masa Bung Karno menjadi presiden. Ia termasuk satu di antara sedikit orang yang sangat memahami Tari Bedayo Tulang Bawang.

Baca juga ya:

Ratu Dandayanti ini mempelajari tarian ini ketika ia remaja, pada tahun 1940-an. Selain itu, seorang keturunan bangsawan bernama marwansyah Warganegara juga mempelajari tarian ini saat ia remaja pada tahun 1950-an. Marwansyah Warganegara adalah seorang pensiunan PNS yang juga merupakan warga Tulang Bawang.

60 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2010, Tari Bedayo Tulang Bawang pernah dipentaskan pada Perayaat HUT Kabupaten Tulang Bawang.

***

Itulah tadi kisah asal usul dan sejarah Tari Bedayo Tulang Bawang. Tarian ini sempat mengalami masa kritis, karena tidak ada yang menarikannya lagi. Juga tidak banyak orang yang cukup menguasai tarian ini. Sehingga, Tari Bedayo Tulang Bawang hampir punah. Hanya dapat ditemui pada catatan-catatan literatur saja. Tidak dapat disaksikan pementasannya lagi.

Namun, akademi Universitas Lampung bernama I Wayan Mustika, berhasil merekonstruksi Tari Bedayo Tulang Bawang ini. Hasil rekonstruksi tarian ini dituliskannya dalam buku yang berjudul Membangkitkan Kembali Tari Bedayo Tulang Bawang.

Dalam melakukan rekonstruksi tersebut, I Wayan Mustika melakukan riset langsung di lapangan dengan menemui orang yang pernah menarikan tari tersebut. Tidak lain adalah Ratu Dandayanti dan Marwansyah Warganegara yang sudah berusia senja.

Pasca rekonstruksi ini, Tari Bedayo Tulang Bawang dipentaskan untuk pertama kalinya pada acara Ulang Tahun Kabupaten Tulang Bawang pada awal tahun 2010 lalu.

Semoga Tari Bedayo Tulang Bawang ini terus lestari sehingga dapat disaksikan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Leave a Reply