Tari Adat

Asal Usul & Sejarah Tari Tambun dan Bungai

Tari Tambun dan Bungai

Tari Tambun dan Bungai - photo credit: genpi.co

Asal Usul dan Sejarah Tari Tambun dan Bungai – Tari Tambun merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang dimiliki oleh Palangkaraya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan sebuah provinsi yang terletak di tengah Pulau Kalimantan. Provinsi ini didiami oleh beberapa suku asli Kalimantan yang kemudian meninggalkan bukti peradaban manusia berupa budaya dan kesenian.

Suku-suku tersebut di antaranya adalah Suku Badang, Suku Dayak Bakumpai, Suku Melayu, Suku Dayak Bawo, Suku Dayak Maanyan, Suku Sarbas, Suku Dayak Ot Danum dan Suku Dayak Taboyan.

Baca juga ya:

Kini, Kalimantan Tengah tidak hanya dihuni oleh suku-suku itu saja. Ada Suku Jawa, Madura, Banjar, Bugis, Sunda, Batak, Flores dan Bali yang juga tinggal di Kalimantan Tengah, meskipun beberapa di antaranya populasinya sangat kecil di sana.

Tari Tambun dan Bungai sebenarnya menyimpan kisah legenda daerah yang  cukup populer di Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya. Seperti apa kisahnya dan bagaimana asal usul dan sejarah Tari Tambun dan Bungai? Mari kita ulas bersama!

Tari Tambun dan Bungai Berawal dari Kisah Dwitunggal Pahlawan Suku Dayak

Tari Tambun dan Bungai

Tari Tambun dan Bungai – photo credit: pesona-indonesia.info

Tari Tambun dan Bungai adalah tari tradisional daerah yang mengisahkan kepahlawanan dua tokoh pejuang Palangkaraya, yaitu Tambun dan Bungai dalam kisah perjuangannya mengusir penjajah yang merampas hasil panen rakyat dari bumi pertiwi.

Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda dari Suku Dayak Ot Danum yang tinggal di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Mereka dianggap sebagai tokoh legenda yang memiliki kekuatan supranatural dan merupakan nenek moyang Suku Dayak.

Sejarah dan legenda purbakala di tanah Dayak yang disebut dengan Tetek Tatum atau yang berarti ratap tangis sejati selalu mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai ini.

Pada masa lalu, hiduplah 3 orang pahlawan pedalaman Kalimantan yang bernama Lambung atau Maharaja Bunu, Karangkang Amban Penyang atau Maharaja dan Sangiang Lanting atau Maharaja Sangen.

Ketiganya tinggal di lembah Sungai Kahayan yang terletak di tengah-tengah Pulau Kalimantan. Mereka hidup dari bertani dan mengambil hasil hutan.

Si Lambung alias Maharaja Bunu memiliki 5 anak, dua di antaranya bernama Tumenggung Sampung dan Tumenggung Saropoi. Tumenggung Sampung menikah dengan Nyai Endas sehingga melahirkan 8 anak. Seorang di antara 8 anak itu terkenal gagah berani, ia bernama Bungai.

Begitu pula dengan saudara ayahnya Bungai, Tumenggung Saropoi. Ia menikah dan kemudian memiliki anak tangguh bernama Tambun.

Sejak masa kecilnya, Bungai sudah berparas tampan. Selain itu, sifat dan karakternya pun baik. Bungai sejak kecil dikenal berani dan tak mudah menyerah. Keras apabila memiliki suatu keinginan dan besar cita-citanya. Banyak tingkah lakunya yang tidak biasa, lain daripada anak-anak pada umumnya.

Karena itulah, ibu dan bapaknya percaya bahwa Bungai kecil memiliki kekuatan gaib dari dewa-dewa. Maka, untuk menguji hal ini, Bungai kecil digantung ayahnya di puncak kayu yang tinggi di sebuah hutan rimba belantara selama 7 hari 7 malam.

Tidak sampai disitu saja, Bungai Kecil juga pernah dibuaikan di sebuah teluk yang airnya cukup dalam selama 7 hari 7 malam pula. Sama sekali tak diberi makan atau minum sedikit pun. Setelah melewati pengujian dari kedua orang tuanya itu, ternyata Bungai kecil masih sehat, segar bugar tanpa kekurangan apapun.

Sedangkan sepupunya, si Tambun pun demikian halnya. Kedua anak ini hidup seperti saudara kembar yang tak ingin dipisahkan. Jika salah satunya berkelahi, maka yang lain akan membantu. Jika si Tambun bersedih hati, Bungai pun ikut berduka.

Meski dalam suka duka masa kecilnya yang penuh keganjilan itu, mereka berdua tetap tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter mulia. Mereka cerdas, ramah, lemah lembut, suka menolong orang lain,  sedikit menerima banyak memberi, bijaksana, cepat kaki ringan tangan, juga pantang menyerah untuk membela kebenaran.

Kedua anak ini seperti satu jiwa dalam dua badan yang memiliki karakter pemimpin. Oleh karenanya, mereka disegani dan disayangi oleh penduduk desa. Sesuai dengan pepatah Suku Dayak yang berbunyi Bakena Mamut Menteng yang artinya tampan, sopan, dan gagah perkasa.

Dalam beberapa kali pertempuran melawan musuh dari suku lain yang ingin menguasai daerah mereka, Tambun dan Bungai selalu memenangkan peperangan. Kemudian, seorang kakak Bungai yang menjadi raja di Pematang Sawang, Pulau Kupang yang bernama Nyai Undang, pada suatu hari diserang oleh musuh dari suku lain.

Sedikitnya 1000 tentara mengepung wilayah Nyai Undang dari sisi utara dan selatan, lengkap dengan senjata dan bekal mereka. Nyai Undang terancam bahaya. Tetapi, berkat keberanian dan keperkasaan Tambun dan Bungai, serangan musuh yang berpasukan besar tersebut dapat dikalahkan dan dipukul mundur dari wilayah kekuasaan Nyai Undang.

Nyai Undang sangat berterima kasih kepada adik dan sepupunya ini, Tambun dan Bungai. Maka, sejak itulah mereka berdua mendapatkan gelar kehormatan Tumenggung Tambun Terjun Ringkin Duhung dan Tumenggung Bungai Andin Sindai.

Adapun yang disebut dengan daerah Pematang Sawang, Pulau Kupang pada cerita ini adalah Kota Bataguh yang terletak tak jauh dari Kuala Kapuas, Ibukota Kabupaten Kapuas sekarang.

Setelah mendharmakan diri kepada tanah airnya, ketika usianya sudah semakin tua, Tambun dan Bungai tinggal menetap di Tumbang Pajangei. Tumbang Pajangei ini terletak di utara Kota Kuala Kurun, Ibukota Kabupaten Gunung mas sekarang.

Mereka tinggal bersama istrinya asing-masing. Tumenggung Tambun beristrikan Puteri Karin Likon Lanting, dan Tumenggung Bungai beristrikan Puteri Bulan Bawin Pulang. Mereka menghabiskan hari-hari tuanya di Tumbang Pajangei sampai meninggal.

Menurut cerita rakyat Suku Dayak, dari keduanya lahirlah banyak keturunan pahlawan-pahlawan Suku Dayak di kemudian hari.

Banyak orang yang mengidolakan dan selalu mengenang perjuangan mereka untuk rakyat. Sehingga, berbagai kesenian diciptakan untuk mengingat dan mengabadikan jasa mereka. Salah satunya adalah Tari Tambun dan Bungai.

Baca juga ya:

Tari Tambun dan Bungai ini biasanya ditampilkan oleh beberapa penari perempuan dengan busana sama serempak sehingga tarian mereka menjadi lebih menarik.

Tari Tambun dan Bungai

Tari Tambun dan Bungai – photo credit: onsseni.blogspot.com

Kini, areal yang dianggap sebagai situs pemukiman di mana mereka tinggal dahulu masih dapat kamu jumpai di Desa Tumang Pajangei, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Meskipun keadaannya sudah tidak terlalu baik, rusak dimakan usia, tetapi tempat ini tetap dikultuskan oleh masyarakat setempat.

Tempat tersebut dijadikan tempat larangan dan dianggap sakral oleh masyarakat desa. Di situs tersebut, kamu bisa menemukan berbagai warisan peninggalan peradaban masa Tambun dan Bungai seperti Patung Tambun dan Bungai, Pasah Patahu Tambun Bungai, Kumpulan Penyangga Pusaka, Situs Batu Bulan, dan Sandung Temanggung Sempung.

***

Nah, itulah tadi kisah sejarah lahirnya Tari Tambun dan Bungai yang fenomenal dan menjadi kisah legenda di antara Suku Dayak dan masyarakat di Kalimantan Tengah. Semoga kisah-kisah itu tidak hilang, lenyap karena tak ada yang menceritakan atau menuliskannya lagi.

Untuk melestarikan tarian daerah ini, kita harus terus menggali sejarahnya. Seperti kata pepatah dari bapak bangsa, jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

 

Leave a Reply