Tari Adat

Asal Usul dan Sejarah Tari Gandai

Tari Gandai Mukomuko

Tari Gandai - Sumber: meike aryanti fanda

Tari Gandai – Setiap daerah di Indonesia memiliki seni dan budaya yang berbeda-beda. Meski demikian, terkadang masih banyak terdapat seni dan budaya yang memiliki kemiripan dengan daerah tetangganya. Salah satunya adalah seni tari asli Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, yaitu seni tari gandai.

Seni tari ini memiliki kemiripan dengan seni tari dari Sumatra Barat (Sumbar). Selain karena memang daerah ini berbatasan langsung dengan Sumbar, juga karena etnis di Mukomuko banyak datang dari Sumbar.

Asal Usul Tari Gandai

Tari Gandai Mukomuko

Tari Gandai – Sumber: meike aryanti fanda

Tari gandai berasal dari kata gando yang berarti ganda atau berpasangan. Kemudian secara perlahan kata gando disebut oleh masyarakat Mukomuko dengan kata “gandai”, di mana tari gandai selalu ditampilkan secara ganda atau berpasangan.

Tari gandai adalah sebuah tari tradisi suku pekal yang ada di Mukomuko provinsi Bengkulu. Pada zaman dahulu masyarakat pekal berkumpul, bersukacita, menari dengan alunan serunai, dan berbalas pantun.

Kegiatan ini dilakukan setiap malam Jumat di balaidesa ataupun halama rumah kepala desa mulai jam 7 malam sampai jam 6 pagi. Tidak hanya muda mudi namun para orang tua hadir menggunakan sarung maupun selendang.

Pemilihan tempat dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan bagi kepala desa dan untuk memudahkan mendatangkan masyarakat. Alunan suara serunai atau dentuman suara canang merupakan bentuk himbauan kepada para warga desa, baik para warga yang hadir sebagai penonton atau para pemuda yang tampil sebagai penari gandai.

Tari Gandai

Tari Gandai Mukomuko – Sumber: Wikipedia

Dalam kehidupan masyarakat Mukomuko, keberadaan kesenian tari gandai diyakini telah berlangsung lama. Beberapa menyebutkan tari gandai telah ada sejak Kerajaan Anak Sungai yang diperkirakan ada pada abad ke 15 (tahun 1600-an).

Masyarakat meyakini bahwa tarian ini bersumber dari cerita rakyat Malin Deman dan Puti Bungsu. Malin Deman merupakan manusia bumi dan Puti Bungsu merupakan manusia langit. Tari gandai awalnya dipertunjukkan untuk menghibur Puti Bungsu yang berpisah dengan Malin Deman.

Baca juga ya :

Tarian di mainkan oleh beberapa penari perempuan secara berpasang-pasangan. Gerakan tari Gandai di ambil dari gerakan satwa yang menggambarkan kekecewaan malin deman yang ditinggal oleh Puti Bungsu.

Dalam perkembangannya, tari gandai sering ditampilkan untuk hiburan dan sebagai pelengkap upacara adat dan pesta rakyat seperti upacara bimbang (perkawinan), khitan, dan perayaan lainnya. Selain itu juga ditampilkan pada upacara penyambutan tamu, perayaan ulang tahun kabupaten, lomba, dan lain-lainnya.

Gerakan Tari Gandai

Tari ini memiliki Sembilan gerak  sesuai dengan lubang pada serunai gandai. Pada saat ini tari gandai sudah mengalami perubahan, baik dari segi bentuk tari maupun dari segi fungsi. Dari segi bentuk tarian, tari gandai memiliki 36 gerakan.

Setiap gerak memiliki nama yang khas, serta menyimpan nilai-nilai kebaikan yang penting untuk terus digali dan diperkenalkan kepada para penari khususnya, dan masyarakat Mukomuko pada umumnya. Tarian yang dilakukan secara bergantian ini menunjukkan aksi dan kehebatan para pemainnya.

Jumlah Penari Tari Gandai

Latihan Tari Gandai

Latihan Tari Gandai – Sumber: YouTube

Penari gandai terdiri dari minimal 6 orang. Rinciannya adalah dua orang laki-laki masing-masing bertugas memukul redap dan memainkan alat musik tiup tradisional yang disebut serunai gandai. 1 orang laki-laki sebagai pemukul gong, 1 orang laki-laki atau bisa juga perempuan sebagai pendendang lagu/nyanyian vokal berupa pantum. Dan sisanya berperan sebagai penari yang saling berpasangan.

Ciri khas tari gandai adalah meski ditampilkan oleh cukup banyak personil, namun mereka tetap menari dalam formasi saling berpasangan. Tidak ada penari gandai tampil dalam formasi berpasangan lebih dari dua orang (jumlah ganjil).

Tari gandai dilakukan secara bergantian dengan menunjukkan kehebatan mereka. Berdasar jumlah penarinya, tari gandai dibedakan menjadi beberapa jenis:

  1. Pada umumnya di kabupaten Mukomuko sang penari gandai adalah perempuan.
  2. Menurut salah satu masyarakat suku Pekal (Kab. bengkulu Utara) salah satu jenis tari gandai yaitu tari gandai bartautan yang dilakukan oleh dua orang laki-laki dari suku Pekal asli.
  3. Jika dilakukan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan yang berasal dari suku Pekal asli maka disebut tari gandai ambat.

Sayangnya saat ini tari gandai seakan hampir punah karena tak lagi banyak warga Mukomuko yang mengenal. Padahal, seni tari gandai masih memiliki magnet untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Leave a Reply