5 Cerita Rakyat Kalimantan Utara - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Cerita Rakyat

5 Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Kisah Aki Balak - Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Kisah Aki Balak - Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Cerita Rakyat Kalimantan Utara – Kalimantan Utara memiliki banyak sekali cerita rakyat yang telah ada secara turun temurun, hingga saat ini.

Beberapa diantaranya bahkan menjadi hikayat, atau asal-usul dari terjadinya suatu tempat di provinsi ini. Walaupun sebenarnya, hal tersebut masih tetap menjadi suatu misteri semesta.r

Berikut adalah 5 cerita rakyat Kalimantan Utara terpopuler, di kalangan masyarakat setempat.

Baca Juga:

1. Kisah Meninggalnya Raja Bunu

Wafatnya Raja Bunu - Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Wafatnya Raja Bunu – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Raja Bunu adalah seorang penguasa yang telah lama menderita penyakit parah. Keluarga kerajaan telah berupaya untuk mencoba menyembuhkannya, namun belum membuahkan hasi satupun. 

Raja Sangen dan Raja Sangiang yang merupakan saudara kandung dari Sri Baginda Raja Bunu, memutuskan untuk meminta bantuan Nyai Jaya dan Mangku Amat. Kedua orang tersebut adalah tabib yang tersohor, akan kemampuannya mengobati penyakit berat. 

Konon menurut kabar yang tersiar, mereka juga memiliki kesaktian, untuk dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati

Kedua saudara kandung Raja Bunu tersebut, meminta Pangeran Paninting Tarung, yaitu putra Raja Bunu, untuk pergi menjemput kedua tabib itu. Pangeran Paninting Tarung segera pergi menuju kediamannya, namun kedua tabib sedang tidak ada.

Sang Pangeran pun kembali ke istana, tanpa membawa hasil. Kemudian, Raja Sangen memintanya kembali, untuk menjemput para tabib itu, hingga tiga kali. Namun kedua tabib tersohor tersebut, tetap belum kembali ke tempat tinggalnya.

Dengan perasaan heran,Pangeran Paninting Tarung tidak paham maksud dan tujuan dari Raja Sangiang dan Raja Sangen. Hingga dia berpikir, kedua saudara kandung ayahnya telah menuduhnya berdusta.

Saat untuk ketiga kalinya dia masih belum dapat berjumpa dengan para tabib itu, maka dia pun merobohkan kedua rumahnya. Putra Raja ini hanya ingin membuktikan pada kedua pamannya, bahwa kedua tabib itu memang sedang tidak ada di rumahnya. 

Kemudian ia kembali ke istana dan membuktikannya, dengan membawa palang pintu, dan sisa puing dari kedua rumah dua tabib itu. Dia pun menegaskan kepada kedua pamannya, bahwa dia tidak berdusta.

Sementara itu, kedua tabib telah kembali ke rumahnya, dan terkesima saat melihat tempat tinggal mereka yang telah hancur. Dengan kesaktian yang dimiliki, akhirnya mereka mengetahui siapa siapa orang yang telah melakukan perbuatan buruk itu. 

Namun saat itu pula, mereka merasakan firasat buruk, bahwa ada musibah yang akan menimpa Kerajaan. Dan firasat itu terbukti, karena Raja Bunu meninggal dunia setelahnya.

Kedua paman Sang pangeran, sangat kecewa terhadap tindakan menghancurkan rumah, serta pengambilan beberapa alat-alat pengobatan mereka. Andai saja Pangeran Paninting Tarung sabar menunggu hingga mereka kembali, mungkin saja Raja Bunu masih dapat selamat.

Bahkan, andaikan Raja Bunu telah meninggal sekalipun, kedua tabib masih mampu untuk menghidupkannya kembali. Namun karena semua alat pengobatan telah hancur semua, tidak ada yang dapat mereka perbuat dengan kondisi ini. 

2. Tugu Telur Pecah – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Legenda Telur Pecah, Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Legenda Telur Pecah, Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Cerita Rakyat Kalimantan Utara selanjutnya adalah Legenda Telur Pecah.

Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, namun tidak seekor hewan pun yang dapat dia dapatkan.

Walaupun begitu, Kuwanyi masih bisa mendapatkan seruas bambu betung dan sebutir telur, yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. 

Ketika membawanya pulang, dari dalam bambu keluar seorang anak laki-laki. Dan saat memecahkan telur, dari dalamnya  keluar pula seorang anak perempuan. Kuwanyi menganggap kedua anak tersebut sebagai karunia para Dewa.

Beserta istrinya, dia  memelihara anak itu hingga dewasa, dan memberinya nama Jauwiru untuk laki-laki, dan Lemlai Suri untuk anak perempuan. Namun bukan hanya membesarkannya, Kuwanyi juga menikahkan keduanya.

Kisah Jauwiru dan Lemlai Suri, kini menjadi lambang sebuah Monumen Telor Pecah. Monumen tersebut terletak di antara Jl. sengkawit dan Jl. Jelarai, Kota Tanjung Selor, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya Kesultanan Bulungan.

3. Asung Luwan  Legenda Bulungan – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Istana Kesultanan Bulungan - Cerita Rakyat kalimantan Utara

Istana Kesultanan Bulungan – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Sebagai informasi, bahwa cerita rakyat Asung Luwan ini, merupakan kelanjutan dari cerita Tugu Telur Pecah.

Setelah Jauwiru dan Lemlai Suri beranjak dewasa, Kuwanyi dan istrinya mendapatkan sebuah wangsit, untuk menikahkan kedua anaknya. Dan setelah dirinya wafat, masyarakat sekitar meminta Jauwiru menjadi pemimpin baru mereka.

Pernikahan Jauwiru dan istrinya, mendapatkan anak bernama Paren Jau, yang kemudian menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin, setelah sang ayah wafat. 

Silsilah keturunan berikutnya, Paren Jau digantikan oleh anaknya yang bernama Paren Anyi, dan berikutnya, oleh putrinya yang bernama Lahai Bara. 

Lahai Bara mempunyai seorang putri bernama Asung Luwan dan putra bernama Sadang. Namun sayang, sang putra harus terbunuh oleh Sumbang Lawing,  yang menjadi pimpinan Suku Kenyah dari Serawak.

Ketika hal tersebut terjadi, Asung Luwan melarikan diri ke pedesaan di hilir Sungai Kayan, dan bertemu dengan Datu Mencang. Pemuda tersebut adalah seorang perantauan dari Kerajaan Brunei, yang  sedang mencari tanah baru, untuk membangun kerajaannya.

Kedua pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta.Sebelum menikahinya, Asung Luwan memberikan syarat kepada Datu Mencang, agar terlebih dahulu mengalahkan Sumbang Lawing. 

Sesuai dengan persyaratan tersebut, Sumbang Lawing kalah dalam pertarungan dengan Datu Mencang, yang akhirnya mempersunting Asung Luwan. Dari hasil pernikahan tersebut, akhirnya melahirkan Suku Bulungan.

4. Cerita Aki Balak

Cerita Aki Balak

Cerita Aki Balak

Cerita Rakyat Kalimantan Utara ini mengisahkan tentang Pak Sako, yang merupakan tetangga keluarga  Arbain dan Masniati.

Pasangan suami istri ini memiliki seorang putra bernama Matonandow, yang artinya adalah Matahari. 

Keluarga kecil ini,memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan memanfaatkan hasil hutan yang subur.

Suatu hari, Pak Sako, terjatuh dari pohon damar dan terluka, sehingga mendapat julukan Aki Balak, karena lukanya yang tidak kunjung sembuh. 

Semakin hari lukanya semakin parah, sehingga dia harus mengungsi ke dalam hutan. Anehnya, selama berada di dalam hutan, luka Aki Balak menjadi sembuh.

Akan tetapi, tidak ada seorang warga pun mengetahui penyebab kesembuhan luka nya itu.

Sejak saat itu, Aki Balak memutuskan untuk menetap di dalam hutan selamanya. Melihat hal tersebut, Matonandow dan warga setempat percaya, bahwa Aki Balak dan kekuatan alam lah yang melindungi dan menolong warga di sana. 

5. Legenda Aki Arut dan Batu Tenebang

Di sebuah hutan, hiduplah seorang laki-laki bernama Aki Arut bersama istrinya, Adu’ Kimpo, keduanya hidup di dalam sebuah gua. Kebahagian mereka bertambah, ketika Adu’ Kimpo melahirkan satu orang putra, dan satu putri.

Saat kedua anaknya sudah menginjak remaja, Aki Arut dan istri berpamitan kepada kedua anaknya, untuk pergi memukul Sagu di hutan. Oleh karena itu, kedua anaknya harus ditinggal di dalam gua.

Ketika orang tuanya sudah pergi meninggalkan mereka, kedua anaknya melihat Burung Janeta dan Yowaing, atau seekor Ayam kecil di depan gua. Kedua anak Aki Arut pun lantas keluar, dan berusaha menangkapnya.

Setelah mendapatkannya, hewan tersebut bukan menjadi santapan, melainkan untuk diadu antara satu dengan lainnya .Ketika mereka sedang menonton pertarungan unggas itui, awan yang tadinya cerah perlahan-lahan berubah menjadi pekat dan hitam. 

Kedua anak Aki Arut tidak melihat perubahan alam tersebut, karena terus-menerus melakukan pertarungan. Hingga pada akhirnya, salah satu unggas mati.

Sesaat setelah kejadian ini, terdengar suara gemuruh langit. Saat itu kedua anak Aki Arut baru sadar, merekapun langsung menatap ke atas langit. Tiba-tiba keduanya melihat hujan batu, dan  mereka langsung bergegas berlari menuju gua untuk berlindung. 

Namun belum sempat menuju gua, langkah mereka tertahan. Daratan tempat mereka berpijak langsung berubah menjadi gunung yang menjulang ke atas langit.

Saat keduanya berada tepat di atas gunung yang diselimuti awan gelap, mereka pun berteriak memanggil ayahnya, hingga berulang-ulang kali. Kayak beradik ini hanya mampu berharap, ayahnya bisa mendengar teriakan mereka.

Adu’ Kimpo yang bekerja memukul sagu bersama suaminya di hutan, tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Dia dapat merasakan, ada yang tidak beres dengan kedua anaknya. Aki Arut yang melihat istrinya, sontak menghentikan pekerjaannya. Mereka pun memutuskan untuk pulang 

Di tengah perjalanan pulang, Aki Arut mendengar suara yang terdengar samar-samar. Dia menduga suara itu adalah suara anaknya, dan berusaha mencari asal dari suara tersebut. 

Matanya langsung tertuju ke arah gunung yang berselimut awan gelap. Dari kejauhan, sesekali dia bisa melihat kedua anaknya berada disana. Sementara sang istri yang turut menyaksikan pemandangan itu, langsung pingsan seketika.

Aki Arut berusaha untuk menjangkau puncak gunung tersebut, namun usahanya ini tidak berhasil.

Setiap kali Aki Arut ingin menggapai puncak gunung, hujan batu terus-menerus berjatuhan mengenai dirinya. Hingga akhirnya, batu-batu itu memenuhi sungai Abath.

Selang beberapa saat kemudian, kabut yang menyelimuti kedua anaknya tiba-tiba mengeras, dan berubah menjadi batu. Hingga keduanya terperangkap di dalam batu. Namun, suara teriakan kedua anak ini terus mendengung keras. 

Sang ayah yang sudah berusaha sekeras, akhirnya putus asa untuk mencari cara agar bisa mengeluarkan kedua anaknya dari dalam batu. Dia hanya bisa menangis menyaksikan kedua anaknya tertelan batu.

Keduanya lantas pulang ke gua, dan tertidur. Saat itu Aki Arut  bermimpi, dan melihat arwah kedua orangtuanya yang memanggil namanya berkali-kali. Mereka meminta Aki Arut untuk menyelamatkan anaknya, dengan menggunakan kapak pusaka miliknya.

Di dalam mimpinya, kedua orang tuanya juga berpesan. Jika telah berhasil membelah batu itu, dia harus tetap diam, agar kedua anaknya bisa selamat.

Aki Arut segera bergegas keluar dari gua, untuk menyelamatkan anaknya, sambil membawa kapak pusaka. Dia sempat mengasah kapak itu terlebih dahulu, tepat di atas batu tersebut.

Saat mengasah kapak itu, tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh petir, yang menyambar Bumi sebanyak dua kali.

Dia berharap, penampakan adalah sebagai pertanda, bahwa mimpinya adalah benar. Aki Arut langsung mengangkat kapaknya, dan menancapkannya ke batu.

Usahanya pun membuahkan hasil, dan batu itu mulai terbelah. Kedua tangan anaknya mulai terlihat.

Beberapa menit kemudian suara kedua anaknya terdengar hingga membuat Arut menangis dan bergegas menyelamatkan anaknya. 

Aki Arut yang dapat mendengar suara anaknya, berusaha tetap diam, dan terus merebahkan batu itu.

Kedua anak itu perlahan sudah semakin terlihat jelas. Arut sudah dapat melihat kedua badan anaknya. Hanya saja, kakinya masih berada di dalam batu. 

Kedua anaknya tetap berteriak meminta tolong, namun Sang Ayah tetap tidak menjawab suara anaknya. Dia terus mengayunkan kapaknya, dan, berharap batu akan cepat terbelah.

Ketika melihat tanda-tanda batu akan rebah. Kaki kedua anaknya pun perlahan-lahan mulai terlihat.

Saking senangnya, tanpa sadar Aki Arut  berteriak memanggil nama anaknya. Dia lupa untuk tetap diam, dan sudah melanggar pantangan dari orang tuanya.

Dan akhirnya, belum sempat kaki kedua anaknya keluar dari batu, secara perlahan batu tersebut mulai mengeras kembali. 

Sang Ayah yang terkesima melihat kejadian ini, langsung mencoba menarik anaknya.

Namun sudah terlambat, walaupun sudah mencoba untuk membelah kembali batu itu. Akan tetapi, kali ini usahanya gagal, hingga mata kapaknya patah.

Batu yang menelan kedua anak Aki Arut tersebut, saat ini bernama Batu Tenebang, yang  artinya batu ditebang. Posisinya terdapat di hulu sungai Abath.

Baca Juga:

Demikianlah, 5 cerita rakyat Kalimantan Utara yang cukup populer di kalangan masyarakat setempat. Semoga dapat memberikan manfaat bagi Sobat semua.

Leave a Reply