Asal Usul & Sejarah Tari Adat Loliyana - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Tari Adat

Asal Usul & Sejarah Tari Adat Loliyana

Tari Adat Loliyana dari Maluku

Tari Adat Loliyana – photo credit @albfrets david on Youtube

Asal Usul dan Sejarah Tari Adat Loliyana – Tari Adat Loliyana merupakan tarian adat hasil kreasi atau pengembangan yang berasal dari masyarakat Kepulauan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Tarian Adat Loliyana yang hanya menggunakan sapu tangan berwarna putih sebagai propertinya ini menceritakan tentang Upacara Panen Lola—salah satu upacara adat panen hasil laut—yang diubah bentuknya ke dalam seni pertunjukan yaitu tarian.

Baca juga ya:

  • Cari tau tentang Tari Cakalele, tarian Perang yang Unik dari Tanah Maluku ini yuk!
  • Tari Suanggi dari Papua Barat ini amat kental dengan kesakralan dan kemistisannya lho!

Tarian Adat Loliyana ini selain mengangkat Upacara Panen Lola sebagai inti kisahnya, juga mengacu pada tradisi dan budaya masyarakat Kepulauan Teon Nila Serua, Maluku dimana tarian adat ini lahir dan berkembang.

Asal Usul dan Sejarah Tari Loliyana berakar dari Binatang Laut bernama Lola

Dalam bahasa masyarakat Maluku, Loliyana merupakan kata yang digunakan untuk menyebut suatu pekerjaan mengumpulkan salah satu hasil laut, yaitu Lola. Lola (Trochus Niloticus) merupakan binatang laut yang berupa siput laut atau kerang yang berasal dari spesies Molluska.

Siput Lola di Perairan Maluku

Siput Lola di Perairan Maluku – photo credit: greeners.co

Binatang laut ini memiliki beberapa nama. Ada yang menyebutnya sebagai siput lola, ada juga yang menyebutnya sebagai siput susu bundar. Tetapi, istilah yang paling umum digunakan oleh masyarakat Maluku adalah Lola.

Lola ini banyak hidup di antara ekosistem terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove. Cangkangnya berbentuk kerucut dengan panjang antara 50 sampai 165 mm dan diameter antara 100 hingga 120 mm. Cangkang Lola ini berwarna krem keputihan dan coraknya bergaris lembayung. Dasar cangkangnya berbintik merah muda.

Sayangnya, binatang laut ini mulai langka sejak satu dekade yang lalu. Lola menjadi sulit ditemukan di perairan Maluku dan Papua karena sempat dipanen secara masif hingga 50 ton per tahun (pada tahun 1950).

Kemudian, Siput Lola ini terus mengalami penurunan panen, hingga tahun 1992 hanya mencapai 1,5 ton per-tahun. Hal ini karena, masyarakat pada waktu itu tidak memperhitungkan siklus perkembang-biakan Siput Lola. Sebab, Siput Lola hanya dapat berkembang biak setelah berusia dua tahun.

Cangkang lola juga digunakan dalam industri kancing dan kerajinan tangan serta diekspor ke Jepang, Korea, dan Eropa, sehingga kelestariannya semakin terancam.

Tetapi, kamu tidak perlu khawatir terhadap kelestariannya karena masyarakat Timur memiliki upacara adat tertentu yang sengaja mereka lakukan untuk meregenerasi binatang laut, khususnya Siput Lola.

Upacara Adat Panen Lola

Tradisi Upacara Panen atau Sasi Lola di Maluku

Tradisi Upacara Panen atau Sasi Lola – photo credit: republika.co.id

Upacara tersebut disebut dengan Upacara Panen Lola atau Sasi Lola. Upacara tradisional ini pada dasarnya untuk melakukan pengambilan Lola secara berkala agar kapasitas penangkapannya terjaga dan tidak berlebihan.

Di daerah Timur seperti Maluku dan sekitarnya, masyarakat lokal memiliki pranata adat yang digunakan sebagai pantangan atau larangan dalam mengumpulkan atau mengambil hasil alam baik hasil laut maupun hasil hutan sampai batas waktu yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.

Inilah yang dilakukan masyarakat adat agar keragaman biota laut di perairan mereka tidak punah karena diambil begitu banyak tanpa pertimbangan. Mereka belajar dari sejarah pada tahun 1950 sampai 1992 silam.

Leave a Reply