3 Upacara Adat Suku Mandar Yang Masih Dilakukan - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Suku, Budaya, kebudayaan

3 Upacara Adat Suku Mandar Yang Masih Dilakukan

Sayyang Pattu’du

Sayyang Pattu’du - foto majenekab,go,id

Upacara Adat Suku Mandar – Di Provinsi Sulawesi Barat ada beberapa suku asli yang masih bermukim sampai saat ini yang salah satunya adalah Suku Mandar.

Menurut informasi terbaru, kelompok masyarakat ini tergolong kelompok terbesar di Sulbar dengan persentase hampir 45% dari keseluruhan suku yang ada.

Makanya, bisa dikatakan kalau Suku Mandar merupakan suku mayoritas di Bumi Sulawesi Barat.

Suku Mandar terkenal sebagai kelompok masyarakat yang memegang erat tradisi dan adat istiadat setempat.

baca juga :

suku mandar

suku mandar – foto coretanzone.id

Bahkan, di kampung-kampung Mandar masih sering dilaksanakan upacara ritual tertentu yang merupakan bagian dari kebudayaan warisan turun temurun nenek moyang mereka.

Jumlahnya juga sangat banyak, baik upacara ritual yang sudah populer maupun yang masih dilaksanakan dalam ruang lingkup terbatas.

Pada artikel travelling berikut ini, kami akan mencoba menjabarkan beberapa upacara adat suku Mandar yang masih tetap terlaksana sampai saat ini.

Tujuan penulisan semata untuk memberikan informasi kebudayaan supaya Anda lebih cinta kepada budaya bangsa sendiri.

Ini dia upacara Suku Mandar yang dimaksud:

1. Sayyang Pattu’du, Upacara Adat Suku Mandar

Sayyang Pattu’du, Upacara Adat Suku Mandar

Sayyang Pattu’du, Upacara Adat Suku Mandar – foto majenekab,go,id

Suku Mandar memiliki satu upacara ritual yang disebut Sayyang Pattu’du atau upacara adat Kuda Menari.

Biasanya, ritual ini dilangsungkan ketika ada salah satu keluarga utamanya anak-anak yang berhasil mengkhatamkan 30 juz Al Quran.

Dasar filosofi upacara adalah sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan agar si anak bisa menjadi muslim yang taat.

Pada ritual Sayyang Pattu’du, anak yang sudah mengkhatamkan Al Quran 30 juz akan dinaikkan ke atas kuda yang sedang berjingkrak mengikuti irama rebana.

Setelah itu si anak akan diarak keliling kampung dengan para keluarga mengikutinya dari belakang.

Terkadang ritual ini diikuti dengan doa-doa tertentu yang dipimpin langsung oleh ulama atau kyai setempat.

Ritual Sayyang Pattu’du merupakan tradisi yang masih berlangsung saat ini serta dianggap memiliki sakralitas tertentu.

Uniknya, masyarakat Mandar yang berada di luar Sulawesi Barat rela pulang kampung hanya untuk mengikuti upacara ritual tersebut.

Tentunya ini menujukkan kalau ritual Sayyang Pattu’du memang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

2. Ritual Mappande Sasi

Ritual Mappande Sasi, Upacara Adat Suku Mandar

Ritual Mappande Sasi, Upacara Adat Suku Mandar- foto ig @infopolman

Suku Mandar yang mayoritas bekerja sebagai nelayan memiliki satu upacara adat yang juga cukup terkenal yaitu upacara ritual Mappande Sasi.

Upacara ini dilangsungkan semata untuk berucap syukur sembari masyarakat berharap dijauhkan dari bencana terutama yang datang dari lautan.

Pada ritual Mappande Sasi, masyarakat suku Mandar akan membawa berbagai jenis makanan ke rumah ketua adat atau tokoh adat setempat.

Setelah makanan tersebut diberi jampi atau doa-doa, maka warga akan membawanya kembali ke pinggir pantai dan dinaikkan ke atas perahu yang sudah dihias sedemikian rupa.

Ketika semua makanan sudah dinaikkan, perahu mulai berangkat ke tengah laut untuk melarung makanan-makanan tersebut.

Setelah upacara Mappande Sasi selesai, biasanya masyarakat suku Mandar akan makan besar di pinggir pantai.

Mereka sengaja mengajak seluruh keluarga untuk makan sambil bercengkrama di dalam nuansa kerukunan dan perdamaian.

Ini juga upacara yang populer bahkan dalam setiap tahunnya selalu menarik minat ribuan pengunjung.

3. Tradisi Makkuliwa Lopi

Tradisi Makkuliwa Lopi

Tradisi Makkuliwa Lopi

Upacara Adat Suku Mandar Yang Masih Dilakukan hingga saat ini adalah tradisi Makkuliwa Lopi yang bermakna selamatan kapal atau selamatan perahu.

Upacara adat ini dilakukan demi tujuan untuk memohon keselamatan sebelum kapal khas Mandar Zandeq berlayar mengarungi lautan demi mengenang para pelaut Mandar yang hebat.

Pada acara Makkuliwa Lopi, istri atau keluarga pemilik perahu akan membuat aneka jenis kuliner.

Namun tidak sembarang makanan melainkan kuliner khusus yang dikemas unik dengan jumlah yang sudah ditentukan.

Setelah itu, makanan tersebut dinaikkan ke atas sebuah kapal di pinggir pantai dan dikelilingi oleh masyarakat.

Tetua adat setempat akan membacakan barzanji atau puji-pujian kepada Nabi.

Setelah doa selesai dipanjatkan, makanan yang terhidang mulai dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk bersantap bersama.

Ritual dianggap selesai ketika acara ramah tamah tersebut juga sudah usai.

Itulah 3 upacara adat suku Mandar yang masih tetap berlangsung sampai detik ini.

Sebuah ulasan yang membuktikan kalau suku asli Sulawesi Barat tersebut memang mencintai tradisi dan kebudayaannya sendiri.

Sebuah kegairahan berbudaya yang sejatinya harus mendapatkan acungan jempol dari semua pihak termasuk pemerintah.

Leave a Reply