Museum History of Java, Museum dengan Teknologi Augmented Reality - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

City Tour, Harga Tiket, Inspirasi, Museum, Pengetahuan

Museum History of Java, Museum dengan Teknologi Augmented Reality

Museum History of Java

Museum History of Java - sumber : Tribun

Museum History of Java – Mendengar kata ‘museum’ yang terbayang dibenak kita sudah pasti tempat bersejarah, sunyi, tenang, sepi, membosankan atau malah terkadang menyeramkan. Beberapa dari kita bahkan enggan untuk sekedar berkunjung ke tempat yang penuh dengan pengetahuan ini.

Tak ayal membuat museum lebih terlihat seperti tempat tak berpenghuni daripada tempat wisata edukasi. Sekali waktu ramai itupun jika ada kunjungan belajar dari sekolah atau universitas.

Museum History of Java

Museum History of Java – foto mymag.net

Apa yang salah sih dari museum? Harga tiket masuk yang murah, gedung yang tinggi dan dingin, ada tiruan T-Rex yang besar di tengah ruangan ternyata belum cukup untuk menarik minat pengunjung. Hal ini membuat pengelola museum perlu memutar otak mereka demi menciptakan ide-ide kreatif dalam menarik pengunjung.

History of Java – Museum dengan Teknologi Augmented Reality

Museum History of Java atau HOJ merupakan salah satu museum yang berhasil keluar dari lingkaran kesunyian. Museum History of Java juga sudah Memanfaatkan kemajuan teknologi, HOJ menjadi salah satu museum dengan teknologi augmented reality (AR) bergabung dengan beberapa museum lainnya.

Misalnya saja seperti Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda dan Diorama Telkomsel. Museum History of Java ini merupakan satu-satunya museum di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang menggunakan teknologi AR.

Museum History of Java

Museum History of Java – sumber : Tribun

Mengusung visi ‘Menceritakan secara lengkap tentang sejarah Pulau Jawa’, Museum History of Java menggunakan teknologi AR sebagai sarana untuk membantu pengunjung agar dapat melihat lebih detail mengenai benda-benda bersejarah dan peristiwa yang terkandung di dalamnya.

Menurut Chief Excecutive Officer dari HOJ yakni Elly T. Halsamer, penggunaan AR pada Museum History of Java sebenarnya diperlukan untuk menghadirkan ‘story teller’ bagi pengunjung.

Bagi Elly, pengunjung dari suatu museum tidak dapat dilepaskan begitu saja, dibiarkan untuk mengerti serta memahami sendiri sejarah dari suatu koleksi. Kecanggihan ‘story teller’ ini nantinya akan mampu memberikan bentuk pengalaman psikologis serta pemahaman psikologis para pengunjung.

Museum History of Java, Museum dengan Teknologi Augmented Reality 1

Penggunaan AR sebagai alat bantu bercerita – sumber : historyofjavamuseum

Selain menggunakan teknologi AR, Museum History of Java juga mengadakan beragam acara tematik untuk semakin menarik pengunjung, seperti pada Perayaan Halloween tahun lalu. Pengelola HOJ menghadirkan zombie-zombie yang tiba-tiba hadir mengejutkan pengunjung saat mereka sedang asik melihat-lihat koleksi.

Masih ditahun yang sama saat Perayaan Natal nih pengunjung yang datang akan mendapatkan hadiah dari Santa Claus. Pada tahun 2020 tepatnya saat Perayaan Imlek 25 Januari lalu, terdapat pohon keberuntungan yang diperuntukan bagi pengunjung, nanti mereka yang beruntung akan mendapatkan angpao sebagai hadiahnya.

Trik ini ternyata berhasil menarik pengunjung lebih banyak dari sebelumnya, ditambah lagi dengan adanya AR semakin menambah pengalama pengunjung.

Koleksi Museum History of Java

Museum History of Java mempunyai sekitar 200 benda bersejarah.  Koleksi yang berada di dalam Museum History of Java berasal dari berbagai zaman, mulai dari zaman prasejarah, kerajaan lama seperti Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, Kerajaan Bintaro, Kerajaan Cirebon, hingga Kerajaan Mataram Islam. Nah berikut ini ada sepuluh benda bersejarah yang menarik dari koleksi HOJ :

1.Hiasan Kayu dengan bentuk Semar yang berasal dari abad ke 19 dan merupakan penggambaran bentuk hakikat bagi Penganut Kapitayan,

Museum History of Java, Museum dengan Teknologi Augmented Reality 2

Hiasan kayu berbentuk kepala semar – sumber : traveltempo

4 Comments

  1. Emiwati

    Bisa buat refreshing setelah CV19 nih

  2. abu zuhdi

    Asik buat karyawisata…
    Info kuliner disekitaran ada nggak ya, biar habis dari musium langsung kuliner.

Leave a Reply