Budaya, Tari Adat, Uncategorised

Asal Usul dan Sejarah Tari Ajat Temuai Datai

1

Keragaman suku dan budaya di Indonesia sangat lah luas, dengan jumlah suku dan budaya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu suku besar yang mempunyai keragaman budaya ialah Suku Dayak. Suku yang aslinya berasal dari Kalimantan ini hidup secara berkelompok dan tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Menurut J. U. Lontaan, suku Dayak terbagi lagi menjadi kurang lebih 405 sub. Dan setiap sub suku memiliki adat istiadat dan budaya yang tidak jauh berbeda.

Mengenal Asal Usul dan Sejarah Tari Ajat Temuai Datai

1

Sumber Foto: wikipedia.org

Salah satu budaya dari suku Dayak yang sampai saat ini masih dijaga dan dilestarikan adalah Tari Ajat Temuai Datai. Tarian adat ini diadopsi dari bahasa Dayak Mualang, yang mana merupakan salah satu sub etnis kelompok Dayak Iban. Secara makna, Ajat Temuai Datai tidak dapat diartikan per kata. Namun, masyarakat Dayak Mualang menjadikan tarian ini sebagai tarian penyambut tamu.

Di Kalimantan Barat sendiri, tari Ajat Temuai Datai ini menjadi tari penyambutan tamu kenegaraan. Dan biasanya dipertunjukkan saat ada wisatawan berkunjung ke kampung Dayak Mualang yang berada di Kalimantan Barat.

Namun, dulunya Tari Ajat Temuai Datai dianggap sebagai tarian sakral. Tepatnya di kampung Dayak Mualang, tarian ini hanya pertunjukan untuk Tamu Agung, yakni para pahlawan yang telah pulang dari medan perang. Sebab, pada masa lampau perang merupakan kebiasaan Dayak Mualang. Mereka melakukan itu atas dasar perebutan kekuasaan.

Dianggap sebagai pahlawan apabila mereka mampu membawa pulang kepala sang musuh. Bagi mereka, penggalan kepala manusia merupakan bukti kemenangan. Karena dipercaya, kepala musuh bisa menjadikan kekuatan jiwa sang pemenang dan menjaga seluruh Suku Dayak Mualang. Dan sebagai pengungkapan senang, mereka mengadakan upacara penyambutan tamu dengan Tari Ajat Temuai Datai.

22

Sumber Foto: sorotborneo.blogspot.com

Hingga kini, di Kampung Dayak Mualang ada aturan adat yang berlaku. Seperti pendatang yang tidak disetujui untuk masuk kampung Dayak Mualang sebelum mengikuti upacara Ajat Temuai Datai. Dan tak hanya itu, tradisi ini juga berlaku untuk warga Dayak Mualang yang sudah selesai berperang.

Teriakan khas suku Dayak yang mengawali tarian Ajat Temuai Datai ini adalah “Nyelaing”. Kabarnya, setiap teriakan dari para penari mempunyai arti.

Seperti teriakan sebanyak tujuh kali berarti pahlawan berhasil dan menang membawa pulang kepala lawan. Dan jika teriakan hanya tiga kali, pahlawan Dayak Mualang mendapatkan kemenangan dan membawa kepala musuh, tetapi pada pihaknya ada yang menjadi korban.

Mulai dari pintu masuk pertama kampung Dayak Mualang hingga halaman depan rumah panjang, para penari akan mengiring perjalanan tamu. Rumah panjang di kampung tersebut dijadikan sebagai rumah kepala suku Dayak Mualang.

Mengenal Gerakan Tari Ajat Temuai Datai

Ngiring Temuai

2

Rumah Panjai atau rumah panjang Sumber Foto: IndonesiaKaya.com

Bagian ini merupakan proses tamu atau pemaduan tamu tiba ke depan Rumah Panjai atau rumah panggung yang panjang. Proses ini dilakukan dengan cara menari. Sesudah melalui upacara persembahan kepada petara, kemudian menyiapkan syarat upacara adat di belakang umpang (bambu yang dilintangkan), dan membaca mantra atau pesan sebagai syarat mengundang Senggalang (burung keramat yang akan memberi pesan kepada Tuhan Yang Maha Esa), lalu proses ini dilakukan terus sambil memandu tamu ketempat selanjutnya.

Baca juga :

• Ini Asal Usul dan Sejarah Tari Pingan

• Dan ini 6 Tempat Wisata di Sekadau Kalimantan Barat

Mancung Buloh

Mancung Buloh berarti menebaskan mandau (parang) untuk memutuskan bambu. Bambu tersebut sengaja dihamparkan guna menutupi jalan masuk ke rumah panjang dan para tamu harus menebaskan mandau tersebut. Hal ini disimbolkan sebagai bebas dari rintangan yang menghalangi perjalanan tamu.

Nijak Batu

Proses ini menginjakkan tumit saat menyentuh sebuah batu yang direndam di dalam air yang sudah dipersiapkan. Hal ini disimbolkan sebagai kuatnya tekad dan tingginya martabat tamu itu sebagai pahlawan yang disegani. Kemudian, air pada rendaman batu tersebut diteteskan pada kepala tamu sebagai simbol keras dan kuatnya semangat untuk tamu yang disambut tersebut atau pahlawan yang diteladani.

Tama’ Balik

Proses ini merupakan proses memasuki rumah panjang. Ini juga merupakan proses akhir dari proses penyambutan. Setelah proses sebelumnya selesai, tamu diizinkan naik ke rumah panjang untuk menyucikan diri dalam upacara yang disebut Mulai Burung atau mengembalikan semangat perang atau mengusir roh jahat.

Leave a Reply