Masjid

Daya Tarik Masjid Jami Sungai Jingah di Banjarmasin

Masjid Jami Sungai Jingah atau Masjid Jami Banjarmasin. Foto: Google Maps / Hery Syahrir

Masjid Jami Sungai Jingah atau Masjid Jami Banjarmasin. Foto: Google Maps / Hery Syahrir

Masjid Jami Sungai Jingah atau Masjid Jami Banjarmasin merupakan salah satu masjid bersejarah yang berada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tepatnya di Jalan Masjid, Kelurahan Antasan Kecil Timur. Masjid ini sering dikunjungi warga luar Banjarmasin sebagai salah satu obyek wisata religi di Kota Banjarmasin. Selain beribadah, pengunjug juga bisa menikmati keindahan arsitektur masjid yang terkenal pula akan kecantikannya ini. Sedangkan bagi masyarakat setempat, masjid ini adalah pusat kegiatan ibadah warga muslim Banjarmasin serta berbagai kegiatan sosial lainnya.

Sejarah Masjid Jami Sungai Jingah

Masjid Jami Sungai Jingah di Malam Hari. Foto: Google Maps / Akhmad Syafi'i Alhabsyi

Masjid Jami Sungai Jingah di Malam Hari. Foto: Google Maps / Akhmad Syafi’i Alhabsyi

Masjid Jami Sungai Jingah dibangun tahun 1777 dan menjadi salah satu masjid tertua di Banjarmasin. Pada masa tersebut, masyarakat setempat merasa kesulitan karena belum adanya masjid yang cukup luas untuk menampung kegiatan ibadah masyarakat secara massal. Mulanya, masyarakat mendapat tawaran dari penjajah Belanda untuk dibantu membangun masjid besar tersebut, terutama dari segi keuangan. Namun tawaran ini ditolak oleh warga.

Hal ini dikarenakan penjajah Belanda yang sering kali memeras warga setempat guna mendapat uang pajak. Tak hanya itu, penjajah pun kerap mengeksploitasi sumber daya yang ada, yaitu berupa hasil hutan karet dan damar. Sadar bahwa tawaran tersebut datang untuk mengambil hati warga, maka masyarakat pun menolak pilihan ini.

Baca juga Pesona Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

Sebagai gantinya, warga Banjar memilih untuk mengumpulkan dana swadaya dan bergotong royong membangun sendiri masjid ini. Tua muda, laki-laki dan perempuan, semuanya ikut serta dalam pembangunan Masjid Jami ini. Bentuk sumbangan yang diberikan warga pun beragam, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Mulai dari menyumbang tanah, perhiasan emas hingga hasil pertanian. Sehingga berdirilah Masjid Jami yang megah di atas tanah seluas dua hektar ini.

Di dekat mimbar Masjid Jami, bisa kita temui sebuah prasasti berlapis kaca yang berbunyi “Tarikh didirikan Mesjid asal adalah hari Sabtu, 17 Syawal tahun 1195H. sultan Tamdjillah dan dicabut 11 Rajab tahun 1353 umurnya 157 tahun 8 bulan 245 hari. Tarikh didirikan Mesjid baru hari Ahad 16 Zulhijjah 1352. Mufti H. Ahmad Kusasi”.

Prasasti ini menceritakan Masjid Jami yang didirikan 17 Syawal 1195 Hijriyah atau tahun 1777 Masehi, di bawah kekuasaan Sultan Tamjidillah dari Kerajaan Banjar.

Pemindahan Masjid Jami Sungai Jingah

Suasana di dalam Masjid Jami Sungai Jingah. Foto: Google Maps / tapalipit _

Suasana di dalam Masjid Jami Sungai Jingah. Foto: Google Maps / tapalipit _

Awalnya masjid ini didirikan di tepi Sungai Martapura. Namun di tahun 1934, masjid ini dipindahkan ke Kelurahan Antasan Kecil Timur, lokasi yang sekarang bisa kita temui. Alasannya, karena adanya pelongsoran tanah di area sekitar masjid. Hal ini terjadi diduga karena pengikisan tanah atau erosi aliran air sungai Martapura.

Selain itu, tanah tempat awal Masjid Jami berdiri adalah tanah rawa sehingga bangunan di atasnya cenderung mudah longsor. Pemindahan masjid ini juga bertujuan untuk melakukan pelebaran area masjid sehingga semakin banyak jamaah yang bisa beribadah di masjid ini.

Arsitektur Masjid Jami Sungai Jingah

Interior di dalam Masjid Jami Sungai Jingah. Foto: Google Maps / Toni Sanjaya

Interior di dalam Masjid Jami Sungai Jingah. Foto: Google Maps / Toni Sanjaya

Majid ini dibangun dengan campuran gaya arsitektur Banjar dan kolonial. Material dasar yang digunakan adalah kayu ulin atau kayu besi. Terdapat tiang penyangga utama atau tiang soko guru yang berjumlah 17 buah, menggambarkan jumlah rakaat solat lima waktu. Atap dari kubah Masjid Jami dibuat berjenjang lima, melambangkan lima rukun Islam.

Masjid ini juga dilengkapi dengan tiga pendopo dan 38 pintu masuk. Bentuk masjid yang kita temui hari ini tidak berubah jauh dari bentuk awalnya. Hal ini dikarenakan renovasi yang dilakukan yang masih sangat menjaga nilai-nilai historis masjid tesebut.

Fasilitas Masjid Jami Sungai Jingah

Masjid Jami Sungai Jingah atau Masjid Jami Banjarmasin. Foto: Google Maps / Hery Syahrir

Masjid Jami Sungai Jingah atau Masjid Jami Banjarmasin. Foto: Google Maps / Hery Syahrir

Di Masjid Jami Sungai Jingah terdapat fasilitas area parkir yang cukup luas dan kamar mandi bersih. Di dalam komplek masjid juga terdapat kantor Majelis Ulama Indonesia Kota Banjarmasin. Sedangkan di bagian belakang masjid terdapat Komplek Makam Pangeran Antasari.

Masjid Jami seringkali dipadati warga untuk berbagai kegiatan. Mulai dari acara akad pernikahan, hingga berbagai macam acara kajian. Di setiap malam Ahad juga diadakan pengajian rutin di masjid ini. Untuk bisa mencapai masjid ini, pengunjung yang berangkat bandara Syamsudin Noor, bisa berkendara ke arah pusat kota Banjarmasin dengan waktu tempuh sekitar 50 menit.

Leave a Reply