Tari Adat

Makna dan Sejarah Tari Kisan yang Wajib Dipelajari Generasi Muda

sejarah Tari Kisan

Provinsi Jambi tepatnya di dua kabupaten besar yaitu Sarolangun dan Kabupaten Bangko, memiliki satu adat istiadat yang berupa kesenian tari. Namanya adalah Tari Kisan yang populer dan masih dilestarikan sampai saat ini alias tidak menjadi sejarah Tari Kisan.

Tari Kisan adalah kesenian tari yang telah menjadi ikon Sarolangun dan Bangko bahkan provinsi Jambi secara umum. Karena tarian ini memang hanya ada di dua kabupaten tersebut dan tidak ditemukan di daerah lain.

Demi melihat hal tersebut, pihak pemangku kebijakan setempat menggalakkan program cinta budaya supaya Tari Kisan tidak hilang digerus zaman. Apalagi saat ini ketika berbagai macam kesenian dari luar masuk ke Indonesia tanpa bisa dicegah.

Pertanyaannya adalah apakah sejarah Tari Kisan? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, di bawah ini akan dijelaskan sejarah Tari Kisan yang lebih detail. Sedangkan di akhir nanti akan dijabarkan tentang makna tariannya. Ini dia penjelasannya:

Sejarah Tari Kisan

sejarah Tari Kisan

Sejarah Tari Kisan

Sejarah Tari Kisan sendiri tidak jelas dimulai pada tahun berapa dan di masa apa. Akan tetapi ada beberapa pengamat yang menyatakan kalau Tari Kisan pernah diangkat oleh dua orang seniman yaitu Daswar Edi pada tahun 1980 dan tiga tahun kemudian baru dielaborasi atau diperbaharui oleh Darwan Asri pada tahun 1983.

Untuk asal mula tarian sendiri tidak ada dokumen yang jelas yang membuktikan awal munculnya Tari Kisan. Bahkan tahun kemunculannya pun tidak ada yang berhasil menemukannya.

Yang diketahui oleh masyarakat umum ialah, Tari Kisan adalah tari tradisional provinsi Jambi yang di-aransemen ulang oleh dua seniman pada tahun 80 an yang namanya sudah dijelaskan di atas.

Akan tetapi semua pengamat berasumsi kalau Tari Kisan sama dengan tari khas Jambi lainnya yang muncul sejak ada kerajaan Melayu. Berarti Tari ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

Apapun polemik sejarah Tari Kisan, kesenian ini masih tetap lestari sampai saat ini. Bahkan pembelajarannya sudah masuk ke sekolah-sekolah dasar dan sudah diprogramkan sebagai bahan ajar ekstra kurikuler.

Makna Filosofis dari Tari Kisan

Tari Kisan memang tidak diketahui asal usul atau sejarahnya. Akan tetapi, masyarakat beranggapan kalau tarian ini ingin menjelaskan makna-makna tertentu. Bahkan ada yang berani mengungkapkan kalau di dalam Tari Kisan ada cerminan filosofis yang luhur.

Tari Kisan memiliki filosofis terkait dengan kehidupan para petani. Sebuah draf maknawi yang menjelaskan usaha para petani ketika mereka bercocok tanam, sampai panen hingga padi tersebut diolahnya menjadi beras.

Ada tujuan filosofis yang ingin disampaikan para penari lewat tarian ini. Yang mana masyarakat tidak boleh melupakan budaya bertani sekalipun jaman sudah lebih komersial, bebas dan maju (modern).

Selain itu di dalam filosofis ini juga dijelaskan kalau urusan bertani bukan hanya urusan kaum pria semata. Bahkan kaum perempuan juga banyak yang turun ke sawah untuk bercocok tanam. Ini pula yang menjadi alasan mengapa para penari Tari Kisan semuanya adalah remaja putri.

Ini merupakan sebentuk pembelajaran, supaya kawula muda utamanya di Jambi tidak bermalas-malasan. Mereka harus tetap bersemangat untuk hidup sekalipun dengan usaha yang keras seperti petani bercocok tanam, panen hingga menghasilkan beras yang akan mereka masak.

Pementasan Tari Kisan

Tari Kisan dilakukan oleh beberapa remaja putri yang tampil secara bersamaan. Umumnya para penari ini menggunakan kostum warna terang yang selalu berbeda di setiap pementasannya. Namun tetap yang dipakai adalah busana adat Jambi.

Umumnya busana yang digunakan adalah pakaian berwarna sama antara atasan dengan bawahan. Sedangkan untuk modelnya, untuk bawahan rok panjang model kurung yang terbelah samping. Sedangkan yang menjadi busana dalam adalah celana longgar sampai mata kaki yang berwarna sama.

Di bagian leher menggunakan kalung yang warnanya sama dengan ikat pinggang. Sedangkan sebagai hiasan kepala menggunakan sanggul, dengan beberapa tusuk konde yang memutari kepala.

Apapun warna yang digunakan, pemakaian aksesoris tetap sama. Ini yang menjadi ciri khas dari Tari Kisan. Dengan kostum semacam ini, para penari meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik tradisional.

Itulah penjelasan singkat tentang sejarah dan makna Tari Kisan. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan untuk Anda yang terkait dengan kebudayaan Indonesia.

 

Leave a Reply