Tari Adat

Makna dan Sejarah Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati - Foto: myimage

Tari Beksan Srikandi Suradewati – Sebagai kota pariwisata memang banyak tempat bersejarah yang ada di Jogja dan sangat menarik untuk dikunjungi. Tatanan kota Jogja juga sangat kental dengan pengaruh budaya Jawa yang menambah suasana teduh dan asri saat singgah di kota ini. Salah satu kesenian tradisional di daerah Jogja yang sampai saat ini masih terus dilestarikan adalah seni tari tradisional.

Makna dan Sejarah Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati – Foto: YouTube

Tari Beksan Srikandi Suradewati merupakan salah satu bentuk tari berpasangan putri Yogyakarta. Tari ini mengambil cerita dari epos Mahabharata yang menggambarkan peperangan antara Dewi Srikandi melawan Dewi Suradewati guna memperebutkan Dewi Siti Sendari.

Peperangan terjadi lantaran Prabu Dasalengka meminta tolong Dewi Suradewati untuk melamar Dewi Siti Sendari yang merupakan keponakan dari Dewi Srikandi, tetapi Dewi Siti Sendari sudah dijodohkan dengan Abimanyu, putra dari Raden Arjuna.

Sehingga tawaran Suradewati terpaksa ditolaknya, namun Suradewati tetap memaksa. Kemudian terjadilah pertempuran antara keduanya. Akhir dari peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh Dewi Srikandi dan kemudian dituangkan dalam tarian ini.

Baca Juga ya : Makna dan Sejarah Tari Adat Sintren

Gerakan Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati – Foto: myimage

Semua gerakan dalam seni tari beksan srikandi suradewati mengacu pada gaya gerakan tari tradisional khas Yogyakarta. Tarian ini dimainkan selama 15 menit dan terbagi dalam tiga bagian atau tiga babak:

  • Dalam babak pertama, berupa gelaran sembahan (beksan lembut)
  • Setelah itu dilanjutkan dengan babak kedua yang dinamakan ulap-ulap, lalu disusul tancep beserta dialog.

Pocapan Beksan Srikandhi-Suradewati (pocapan pertama) yaitu :

  • Suradewati : “Prajurit, sapa aranmu? Maju sura ngadilaga.”
  • Srikandhi : “Aku garwane Raden Janaka, kang saka ing Cempala Harja. Lha koe sapa aranmu?”
  • Suradewati : “Aku kadange Taruna, kakangmbok Prabu Rara Suprabawati, saka ing Negara Simbar Manyura, kekasih Sang Dyah Patih Suradewati. Wara Srikandhi!”
  • Srikandhi : “Ana paran?”
  • Suradewati : “Dak jaluk Dewi Siti Sendari, bakal dak caosake Kaka Prabu Dasalengkara.”
  • Srikandhi : “Ora oleh, saiki ora oleh, mbesuk ora oleh. Opo sak gendingmu dak kembari?!”
  • Suradewati : “Babo wara Srikandhi!!! Ayo pada menttarakke kawiragan!!!” dengan nada menghentak/ marah
  • Srikandhi : “Iyo mayo!”
  • (pocapan kedua, sebelum perangan)
  • Suradewati : “Wara Srikandhi!”
  • Srikandhi : “Ana paran?”
  • Suradewati : “Ora ana kawekasane menttarakke kawiragan. Ayo pada ngadu tekswaning curigo!!”
  • Srikandhi : “Iyo mayo!”
  • Babak ketiga biasa disebut dengan inti tarian atau enjerah atau peperangan dengan keris (curigo).

Selanjutnya tarian ini diakhiri dengan yang namanya mundur gendhing. Pada saat itu penari akan berjalan mundur secara perlahan dan meninggalkan panggung pertunjukan. Pada setiap babak tarian, semua gerakannya juga terbagi jadi dua.

Baca Juga ya : Inilah Sejarah dan Makna Tari Jugit

Masing-masing gerakan ini selalu merujuk pada tokoh penarinya. Setiap gerakan yang dimainkan oleh penari dengan peran Dewi Suradewati dinamakan Pucang Kanginan. Sedangkan setiap gerakan yang dimainkan oleh penari dengan peran Srikandi disebut gerakan Dewi Srikandi Gordo.

Busana/kostum Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati

Tari Beksan Srikandi Suradewati – Foto: myimage

Setiap penari pada tari beksan srikandi suradewati menggunakan busana wayang orang. Pemeran Dewi Srikandi mengenakan mahkota yang disebut dengan tekes, sumping januran, jariknya menggunakan motif perang gendreh polos, bajunya menggunakan rompi warna hitam.

Sedangkan pemeran Dewi Suradewati mengenakan mahkota yang disebut dengan togok keling dan sumpinya mankoro, jariknya menggunakan motif parang gordo dengan busana rompi warna merah. Pemeran Dewi Suradewati juga menggunakan probo dan mempunyai karakter gerak tari putri brayak.

Riasan Tari Beksan Srikandi Suradewati

Baik pemeran Dewi Srikandi maupun Dewi Suradewati menggunakan riasan cantik yang berkarakter. Nyatanya riasan tersebut mampu menambah peran yang ditampilkan menjadi lebih dalam, Sedangkan properti yang dikenakan dalam beksan ini adalah sebuah keris yang dipakai kedua tokoh tersebut.

Musik pada Tari Beksan Srikandi Suradewati

Iramanya gendhing yang mengiringi Tari Beksan Srikandi Suradewati menggunakan gamelan klasik Jawa secara langsung dengan gendhing ladrang sri katon. Di mana pada enjerannya menggunakan ketawang madu mukti, peperangan menggunakan gendhing playon dan mundur gendingnya menggunakan ayak-ayak.

Tari beksan srikandi suradewati merupakan sebuah tarian yang memberikan pelajaran hidup, Janganlah terlalu memaksakan kehendak tanpa melihat situasi dan kondisi yang sudah ada.

Kalaupun tetap pada kehendak yang diinginkan (ego), maka mau tidak mau pasti akan bertabrakan dengan kepentingan yang lain. Dan bisa-bisa malah menyebabkan kerugian terhadap diri sendiri maupun pihak yang lain. Hendaklah lebih bijaksana dalam mengambil segala keputusan di kehidupan bermasyarakat dan individu.

Leave a Reply