Tari Adat

Asal Usul dan Sejarah Tari Petik Pari

Tari Petik Pari

Tari Petik Pari - kamerabudaya.com

Tari Petik Pari adalah simbol budaya masyarakat agraris. Tarian kontemporer ini mengejawantahkan nilai-nilai positif masyarakat Jawa yang berkultur agraris. Beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih memegang teguh tradisi penghormatan terhadap Dewi Sri, yaitu dewi padi.

Tari Petik Pari

Tari Petik Pari

Tari Petik Pari – kamerabudaya.com

Tidak hanya menjadi dewi padi dan lambang kesuburan, Dewi Sri juga menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang-orang Jawa khususnya petani Jawa yang meliputi siklus hidup, yaitu perkawinan, kehidupan rumah tangga, dan tanah pertaniannya.

Di beberapa tempat, Tari Petik Pari menjadi bagian dari ritual adat berupa syukuran. Tari Petik Pari ini juga kerap menjadi upaya membudayakan kembali pentingnya prosesi petik padi dalam khasanah budaya Jawa dan nusantara.

Ulasan tentang asal usul dan sejarah Tari Petik Pari yang mirip dengan Tari Prawiraguna dari Boyolali berikut ini.

Asal Usul Tari Petik Pari

Tari Petik Pari dikembangkan oleh Anang dari Sanggar Blarak Pacitan. Anang dan istrinya mulai mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi tarian karena terinspirasi oleh kegiatan petani memanen padi di sawah.

Mereka melatih ratusan anak-anak dan remaja di Kabupaten Pacitan dalam sanggar tarinya. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, dua sejoli semakin giat mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi seni tari.

Sejarah Tari Petik Pari

Sejarah Tari Petik Pari – merdeka.com

Pada umumnya, masyarakat Jawa memiliki beragam acara untuk merayakan masa panen. Tari Petik Pari adalah simbol kebahagiaan perayaan panen padi untuk menghormati Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Tari Petik Pari adalah salah satu karya yang berakar dari budaya lokal masyarakat Jawa.

Gerakan Tari Petik Pari

Tari Petik Pari biasanya ditampilkan oleh lima orang penari. Ketika pementasan, satu per satu penari naik ke panggung. Ketika semuanya sudah berada di atas panggung, lima penari tersebut mulai bergerak secara melingkar, memutar, dan berbaris lurus dengan menggerakkan tumit, tangan, serta pinggul.

Setelah itu, para penari berpencar dan membentuk setengah lingkaran. Dalam formasi lingkaran ini, para penari berjongkok dengan memeragakan gerakan memetik padi yang menjadi gerakan utama dan Tari Petik Pari.

Gerakan Tari Petik Pari

Gerakan Tari Petik Pari – indonesiakaya.com

Usai menampilkan gerakan utama, kelima penari saling berangkulan sambil memainkan kaki yang mengekspresikan kegembiraan karena sudah panen padi. Gerakan dilanjutkan dengan memutar dalam putaran kecil, kemudian berlanjut ke putaran besar.

Empat orang penari mengelilingi 1 penari dan berhenti dalam posisi seolah-olah sedang menyambut penonton. Ternyata ini adalah gerakan penutup, kemudian para penari kembali ke belakang panggung.

Perkembangan Tari Petik Pari

Tari Petik Pari adalah salah satu bentuk selamatan pada musim panen padi. Selamatan pada musim panen sejatinya tradisi turun temurun dari nenek moyang masyarakat Jawa.

Selamatan pada musim panen bertujuan mendapatkan keselamatan dalam mengerjakan lahan pertanian dan keberhasilan dalam panen. Selain itu, Tari Petik Pari menjadi upacara supaya padi-padi di sawah terhindar dari hama dan hasil panen akan berkualitas bagus dan jumlahnya melimpah.

Masyarakat biasanya menyiapkan uborampe atau sesajian yang berisi kemenyan, kaca, sisir, pisang, bunga beraneka warna, ketan, benang, dan kapas dalam upacara selametan. Tradisi ini benar-benar warisan nenek moyang karena pada zaman dahulu belum mengenal agama. Mereka hanya punya kepercayaan yang disebut animisme.

Baca Juga ya :

Tari Petik Pari

Tari Petik Pari – foto indonesiakaya.com

Mereka juga menyiapkan tumpeng lengkap dengan lauk-pauk. Semua sajian yang telah disiapkan akan dibawa ke sawah yang akan dipanen padinya. Setelah tiba di sawah, sajian atau sesembahan akan dibacakan mantra atau doa sesuai ajaran keagamaan yang dipercaya.

Uborampe atau sesajen diletakkan di atas anyaman bambu. Selanjutnya, padi yang sudah dipotong-potong dari sawah yang telah dipanen akan dibawa ke rumah si empunya hajat. Setelah tiba di rumah, potongan padi itu kembali dibacakan doa atau mantra.

Itulah asal usul dan sejarah tari Petik Pari. Masyarakat Indonesia memang kaya akan seni dan budaya sehingga harus dilestarikan. Tari Petik Pari benar-benar tari kontemporer yang diciptakan karena melihat fenomena yang terjadi pada masyarakat agraris di Pulau Jawa, khususnya di Pacitan, Jawa Timur, di mana pencipta Tari Petik Pari tinggal.

Setelah mengenal agama, khususnya agama Islam, ada penyesuaian dari kegiatan selametan yang dilakukan. Masyarakat tetap melakukan selametan untuk berbagai hal sebagai bentuk rasa syukur akan keberhasilan dan kebahagiaan yang diperoleh. Mari kita mengenali tarian adat Indonesia seperti Tari Ujung Alit yang asli dari Jawa Timur.

 

Leave a Reply