Budaya

5 Pakaian Adat Sumatera Utara

Pakaian Adat Suku Pakpak, pakaian adat sumatera utara

Pakaian Adat Suku Pakpak, pakaian adat sumatera utara - foto modelbaju.id

Pakaian Adat Sumatera Utara – Provinsi Sumatera Utara memiliki berbagai ragam adat dan budaya. Salah satu budaya yang ada di provinsi ini adalah busana adat. Ada berbagai macam pakaian khas dari Sumatera Utara menurut suku yang ada di sana.

Sumatra Utara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Sumatra. Provinsi ini beribu kota di Medan. Luas wilayahnya 72.981 km². Sumatra Utara adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dan pada tahun 2019, jumlah penduduknya adalah sebesar 14.908.036 jiwa.

Tari Tor Tor, Tarian adat dari Sumatera Utara

Tari Tor Tor, Tarian adat dari Sumatera Utara – Sumber: pesona.travel

Sumatra Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, Siladang[31], Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatra Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau.

Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Yuk Simak 5 pakaian adat Sumatera Utara yang dihimpun Sering Jalan ini!

1. Pakaian Adat Suku Mandailing

Pakaian adat Sumatera Utara dari Suku Mandailing adalah ulos. Pakaian ini dikenakan di beberapa daerah seperti di Tapanuli Selatan, Mandaiiling, dan Padang Lawas. Suku Mandailing mengenakan ulos yang dipadukan dengan berbagai aksesoris seperti bulang.

Pakaian Adat suku mandailing, Pakaian adat sumatera utara

Pakaian Adat suku mandailing, Pakaian adat sumatera utara – foto dailysatu.com

Bulang merupakan aksesoris yang terbuat dari logam atau emas sepuhan. Aksesoris untuk salah satu pakaian adat Sumatera Utara ini mengandung lambang kemuliaan dan menunjukkan simbol dari struktur masyarakat. Aksesoris bulang dikenakan oleh perempuan Mandailing sebagai penutup kepala.

Sama halnya dengan perempuan Mandailing yang mengenakan bulang, para lelaki Mandailing mengenakan ampu. Akesoris ini dahulu hanya dikenakan oleh Raja Mandailing dan Angkola.

Ampu terdiri dari dua warna yaitu emas dan hitam. Warna emas menandakan tentang kebesaran, sedangkan warna hitam merupakan simbol dari kekuatan.

2. Pakaian Adat Suku Pakpak

Pakaian adat Sumatera Utara yang kedua adalah Pakian Adat suku Pakpak yang terdiri dari pakaian adat untuk laki-laki dan perempuan. Pakaian adat laki-laki untuk Suku Pakpak terdiri dari baju dan berbagai aksesoris penyertanya.

Baju salah satu suku di Sumatera Utara ini disebut dengan Merapi-api. Baju ini dihiasi dengan manik-manik atau disebut dengan api-api. Baju ini dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam dengan ujung berwarna merah dan putih. Model celana ini seperti yang dikenakan pakaian karate, yaitu celana dengan panjang hingga mata kaki.

Baca Juga: 

Pakaian Adat Suku Pakpak, pakaian adat sumatera utara

Pakaian Adat Suku Pakpak, pakaian adat sumatera utara – foto modelbaju.id

Pakaian adat Sumatera Utara dari Suku Pakpak untuk lelaki ini memiliki berbagai aksesoris sebagai tambahan. Para lelaki Pakpak mengenakan penutup kepala bernama bulang-bulang yang disimbolkan sebagai sebuah tanda kehormatan dan kewibawaan. Aksesoris untuk laki-laki selanjutnya adalah oles sidosdos atau sarung. Aksesoris ini dililitkan melingkar di atas celana panjang.

Untuk tambahan di busana, terdapat aksesoris sabe-sabe yang disematkan di bahu sebelah kanan. Kemudian, ada aksesoris yang disebut rempu riar, yatu sejenis pisau berlapis emas, perak, dan riar atau uang zaman dahulu. pisau ini disematkan di pinggang melalui rantai abak.

Borgot merupakan aksesoris berupa kalung emas yang dikenakan oleh laki-laki Suku Pakpak. Kalung ini menandakan strata seseorang. Laki-laki dengan strata yang tinggi mengenakan kalung yang diikat dengan benang sitellu rupa. Rantai kalung dengan ujung bergambar kepala kerbau ini terdiri dari 32 keping emas.

Aksesoris rantai abak merupakan ikat pinggang yang awalnya terbuat dari perak. Aksesoris untuk pakaian adat Sumatera Utara ini menunjukkan kewibawaan seseorang. Aksesoris lainnya adalah ucang, yaitu tas dari anyaman daun pandan dengan hiasan manik-manik. Tali ucang berwarna merah dan disampirkan di bahu sebelah kiri atau dibawa.

Selain sabe-sabe, laki-laki Suku Pakpak juga membawa tongket atau tongket belekat. Aksesoris ini adalah sebuah tongkat dengan ukiran di ujung batangnya. Buku-buku tongkat biasanya diikat menggunakan bahan dari perak atau emas.

Pakaian adat Suku Pakpak yang dikenakan oleh perempuan juga disebut dengan baju merapi-api dan berbagai aksesoris tambahan. Sama dengan yang dikenakan para laki-laki, para perempuan juga mengenakan sarung atau oles perdabaitak yang dilitkan di pinggang.

Penutup kepala pakaian adat perempuan bernama saong. Pada saat perempuan berusia muda, saong yang dikenakan memiliki sudut runcing ke belakang dan berbentuk lonjong. Ketika seorang perempuan beranjak dewasa, bentuk dari saong akan lebih sederhana.

Kalung yang dikenakan oleh perempuan Suku Pakpak bernama leppa-leppa. Bahan dan bentuk kalung ini mirip dengan borgot. Yang membedakan adalah leppa-leppa tidak memiliki mata kalung dan rangkaiannya lebih pendek.

Rantai abak atau ikat pinggang juga dikenakan oleh perempuan. Ikat pinggang ini menahan pisau yang bernama rabi munduk. Akesoris ini memiliki pegangan dari kayu yang diukuir dan dililit emas atau perak.

Pada pakaian perempuan Suku Pakpak juga ditemukan aksesoris kancing emas. Bentuk kancing ini bulat dengan jari-jari sekitar 3-4cm. Fungsi akesoris ini adalah sebagai hiasan.

3. Pakaian Adat Suku Nias

Pakaian Adat Suku Nias

Pakaian Adat Suku Nias – foto silontong.com

Pakaian adat Sumatera Utara selanjutnya berasal dari Suku Nias yang memiliki warna dominan emas dan kuning. Pakaian untuk laki-laki di suku ini bernama baru ohulu. Baru merupakan rompi yang terbuat dari kulit kayu. Rompi ini bisa berwarna hitam atau emas.

Pada baru ohulu juga ada hiasan berwarna kuning, merah, atau hitam. Untuk aksesoris, para lelaki di Nias mengenakan kalabubu. Aksesoris ini merupakan kalung yang terbuat dari kuningan.

Pakaian adat Suku Nias untuk perempuan juga terbuat dari kulit kayu dan kain blacu hitam. Pakaian ini bernama orba si oli. Pakaian ini dipercantik dengan aksesoris berupa gelang bernama aja kola dari kuningan dan anting logam yang besar bernama saro delinga.

Baca Juga: 

4. Pakaian Adat Suku Karo

5 Pakaian Adat Sumatera Utara 1

Pakaian adat Suku Karo_Sumber: perpustakaan.id

Pakain adat Suku Karo merupakan pakaian adat Sumatera Utara yang berasal dari Kabupaten Karo. Masyarakat Suku Karo menggunakan uis gara atau kain tenun tradisional. Pakaian ini digunakan untuk upacara dan kegiatan formal.

Uis dapat diartikan sebagai kain dan gara merupakan bahasa Karo untuk warna merah. Ciri khas pakaian adat Suku Karo adalah kain berwarna merah. Di dalam tenun kain pakaian adat Sumatera Utara ini ada tiga warna utama yaitu merah yang mendominasi, putih, dan hitam. Ketiga warna ini disulam dengan benang berwarna perak dan emas.

5. Pakaian Adat Suku Batak Toba

5 Pakaian Adat Sumatera Utara 2

Pakaian Suku Batak Toba_Sumber: romadecade.com

Pakaian adat Sumatera Utara yang terakhir adalah pakaian adat Suku Batak Toba. Pakaian ini merupakan kain tenun yang disebut dengan ulos. Kain ulos ditenun secara manual dan menggunakan benang dari sutra. Terdapat tiga ciri khas warna benang pada kain ulos yaitu benang warna perak, emas, putih, merah, dan hitam.

Leave a Reply