Sejarah Dan Makna Tari Jaranan Kepang - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Tari Adat

Sejarah Dan Makna Tari Jaranan Kepang

tari jaranan kepang

Tari Jaranan Kepang. Foto oleh senipedia.id

Tari Jaranan Kepang – Jaran kepang yang biasanya juga disebut kuda lumping atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda dari anyaman rotan . Tari jaran kepang ini merupakan kesenian rakyat yang hingga saat ini masih tumbuh dan berkembang di banyak kelompok masyarakat di nusantara. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Tarian tradisional yang dimainkan secara ”tidak berpola” oleh rakyat kebanyakan tersebut telah lahir dan digemari masyarakat, khususnya di Jawa, sejak adanya kerajaan-kerajaan kuno tempo dulu. Awalnya, menurut sejarah, seni jaran kepang lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan istimewa kerajaan yang memiliki bala tentara. Di samping itu, juga sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah namun fenomenal kepada rakyat banyak.

Baca juga ya :

Sejarah Tari Jaranan Kepang

tari jaranan kepang

Penampilan Tari Jaranan Kepang. Foto oleh tebuireng.online

Dahulu, Jaran Kepang bukanlah sebuah seni pertunjukan, bukan pula dinamakan kesenian karena memang pada zaman tersebut belum ada istilah kesenian. Jaran Kepang sendiri merupakan bagian dari ritual menolak bala, mengatasi berbagai musibah, meminta kesuburan pada lahan pertanian, mengharap keberhasilan panen, dan juga supaya masyarakat aman dan tenteram. Pada zaman primitif terdapat kepercayaan bahwa kerusakan lingkungan, wabah penyakit, bencana alam dan sebagainya terjadi karena kekuatan roh nenek moyang. Seiring dengan perjalanan waktu, setiap musibah, bencana atau berbagai masalah dalam kehidupan dihubungkan dengan roh nenek moyang itu disusun menjadi serangkaian cerita yang berkembang menjadi mitos yang diyakini oleh masyarakat. Kemudian dilakukan upacara (ritus) dengan tujuan agar musibah tidak datang lagi. Kejadian yang berlangsung berulangkali kemudian berkembang menjadi berbagai simbol yang digunakan untuk kegiatan ritual.

Sejauh ini memang belum ditemukan data tertulis atau prasasti yang membahas soal Jaran Kepang. Yang ada baru relief candi, seperti di Candi Jawi, Pasuruan, yang memperlihatkan seorang perempuan bertapa dan pasukan berkuda yang diduga merupakan Dewi Kilisuci. Jika yang disampaikan dalam cerita lisan selama ini benar, kemungkinan Jaran Kepang sebagai tari kerakyatan kuno embrionya sudah ada pada abad ke-12 dan mulai kental pada abad ke-13 dan ke-14. Pada masa kolonial telah ada catatan soal itu. Thomas Starmford Raffles dalam buku History of Java (1817) membicarakan sebuah pertunjukan di Jawa yang menggunakan imitasi kuda.

Namun setidaknya, ada 5 versi yang mengusung Sejarah terbentuknya Tari Kuda Lumping Jawa tengah ini, antara lain adalah :

Leave a Reply