Mengenal Kota Botawa Kabupaten Waropen - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Pengetahuan

Mengenal Kota Botawa Kabupaten Waropen

Kota Botawa Kabupaten Waropen

Kota Botawa Kabupaten Waropen - wisato.id

Kota Botawa Kabupaten Waropen – Waropen adalah sebuah kabupaten di Papua dengan ibu kota bernama Botawa. Mengenal kota Botawa Kabupaten Waropen bisa dilakukan dari berbagai hal. Kabupaten ini terbentuk sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Yapen Waropen pada tahun 2003 dengan ibu kota di Serui, Pulau Yapen.

Mirisnya, kondisi di Waropen serba terbatas seperti alat komunikasi seperti telepon masih terbatas dan alat transportasi masih sulit. Tak heran jika berbagai dinas dan instansi pemerintah di Waropen sulit dihubungi.

Logo Kota Botawa Kabupaten Waropen

Logo Kota Botawa Kabupaten Waropen – id.wikipedia.org

Uniknya, warga di Waropen masih sangat mempertahankan penggunaan bahasa daerah sehingga para wisatawan yang berkunjung akan banyak diajarkan berbagai kosa kata yang digunakan sehari-hari. Hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung terutama wisatawan mancanegara.

Pohon bakau (mangrove) adalah tanaman yang banyak dijumpai di daerah ini dengan sungai/ kali yang bermuara ke pantai. Waropen bisa dikunjungi dengan menggunakan transportasi air, yaitu perahu motor tempel/ kapal kayu, kapal perintis, dan kapal expres/kapal cepat dari Serui ke Waropen untuk pergi dan pulang dengan jadwal tertentu.

Dengan demikian, alat transportasi laut memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Kota Botawa Kabupaten Waropen terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sejarah Singkat Kota Botawa Kabupaten Waropen

Nama “Waropen” memiliki hubungan yang erat dengan kata “Oropong” yang mula-mula dipakai oleh Jacob Weyland (tahun 1705). Menurut penduduk asli, Waropen artinya orang yang berasal dari pedalaman di Gunung Tonater, Wamusopedai.

Sesuai dengan mitos, orang-orang Waropen memang bermigran ke pantai karena ada air ampuhan seperti banjir bandang. Mereka terhanyut sampai ke Waropen Ambumi dan Roon di Kabupaten Nabire, Manokwari di barat, dan Waropen Ronari di timur.

Orang-orang yang tersisa adalah mereka yang tinggal di pesisir, yaitu Waropen Kai. Secara resmi dalam administrasi Pemerintahan, orang-orang asli Waropen tinggal di Kecamatan Waropen Atas, Kecamatan Masirei, dan Kecamatan Waropen Bawah.

Menurut Held (tahun 1974), wilayah Waropen Atas terdiri dari 3 (tiga) wilayah hukum adat yang tercermin dalam bahasa sehari-hari yang berbeda. Wilayah tersebut adalah Wilayah Waropen Ambumi, Wilayah Waropen Kai dan Wilayah Waropen Ronari.

Masyarakat Hukum Adat Waropen Ambumi yang terbagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok yang masuk ke WilayahKabupaten Nabire yang mendiami kampong-kampung Napan, Wenami,Masipawa, Makimi, Moor, Mambor dan Ambumi. Serta kelompok yang masuk Wilayah Kabupaten Manukwari dan mendiami kampung-kampung Yendeman, Saybes,War, kayob dan Menarbu.

Masyarakat Hukum Adat Waropen Kai, yaitu masyarakat yang mendiami kampung-kampung Semanui, Wapoga, Desawa, Waren, sedangkan kampung-kampung Paradoi, Sanggei, Mambui dan Nubuai yang kini tergabung dalam satu pemukiman yang disebut Urei Faisei, Risei Sayati, Wonti, Bokaro, dan Koweda. Waropen inilah yang dikatakan sebagai orang Waropen Asli.

Kota Botawa Kabupaten Waropen

Masyarakat Kota Botawa Kabupaten Waropen – liputan6.com

Masyarakat Hukum Adat Waropen Kai, yaitu masyarakat yang mendiami kampung-kampung Barapasi, Sosora, Sorabi, Kerema, Tamakuri, Teba, Janke dan baitanisa yang mendiami daerah pedalaman Waropen Timur hingga Pegunungan Van Ress.

Pada umumnya, kampung-kampung di kawasan pesisir Waropen dibangun di atas sungai di area hutan bakau dan ada pula yang dibangun di lidah pasir dan muara-muara sungai. Namun, ada juga beberapa kampung yang sudah dibangun di tanah kering, yaitu di Waropen Atas sejak tahun 1970 yang disahkan oleh Bupati Yapen Waropen.

Potensi Ekonomi Kota Botawa Kabupaten Waropen

Mengenal kota Botawa Kabupaten Waropen seperti mengenal kota Supiori dari sektor ekonomi yang lebih bertumpu pada hutan berupa kayu. Ada sekitar 9.500 hektare hutan produksi kayu di pesisir Selat Saireri. Sampai tahun 2002, kayu bulat hingga hasil hutan bukan kayu seperti damar, rotan, kulit mahoni, gaharu dan nipah menjadi penyumbang utama terhadap kegiatan ekonomi.

Leave a Reply