Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

Tari Adat, Budaya

Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan

Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan 1

Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan – Tari Topeng Dinaan adalah tarian tradisional dari Provinsi Jawa Barat, khususnya menyebar di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka.

Selain tari adat tradisional dari Jawa Barat yang sering dipentaskan di pertunjukkan seni dan masih terus dilestarikan, sejarah dan makna Tari Topeng Dinaan juga menarik untuk dipelajari.

Bagaimana sejarah dan makna Tari Topeng Dinaan?

Simak ringkasan mengenai sejarah dan makna Tari Topeng Dinaan pada artikel di bawah ini!

Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan

 

Tari Topeng Dinaan berasal dari Jawa Barat yang pertunjukkannya diadakan seharian suntuk (sedina/sadinten).

Tarian ini biasanya dibawakan setelah pementasan Wayang Kulit pada Upacara Babarit Sendiri. Seperti halnya tarian ada lain, sejarah dan makna Tari Topeng Dinaan juga dibalut dengan misteri yang masih banyak orang tidak ketahui.

Terbilang dari asal usul  tarian ini sendiri, diketahui bahwa sangat berhubungan dengan kekuatan mistis ataupun cerita sejarah pada daerah tersebut.

Tari Topeng Dinaan sangat kental dengan berbagai adat Jawa Barat ini sendiri karena masih banyak masyarakatnya yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual melalui tarian.

Sejarah Dan Makna Tari Topeng Dinaan 2

Foto: lis.madna_captures

  • Sejarah Tari Topeng Dinaan

Konon, tarian topeng sejenis ini sudah berkembang di Jawa Timur sejak abad 10 hingga 16 Masehi. Baru pada masa Kerajaan Jenggala di bawah pemerintahan Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, kesenian tari ini mulai masuk ke Cirebon melalui seniman jalanan.

Sejarah dan makna Tari Topeng Dinaan juga berhubungan dengan penyebaran agama Islam. Syarif Hidayatullah, atau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, adalah tokoh penting penyebaran agama Islam serta tari topeng ini di Cirebon.

Pada tahun 1470-an, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga menggunakan Tari Topeng sebagai media penyebaran Islam sekaligus hiburan di lingkungan Kesultanan Cirebon. Bersamaan dengan Tari Topeng, kesenian lain juga digunakan untuk penyebaran agama Islam, mulai dari Angklung, Gamelan Renteng, Brai, Reog, Wayang Kulit, dan Berokan.

Saat Sunan Gunung Jati berkuasa di Kesultanan Cirebon pada tahun 1479, ada penyerangan dari Pangeran Welang dari Karawang yang sangat sakti karena memiliki pedang bernama Curug Sewu.

Sunan Gunung Jati yang tidak mampu mengalahkan Pangeran Welang meskipun sudah bekerja sama dengan Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana, akhirnya memilih untuk berdamai dengan jalan kesenian.

Kemudian, dari keputusan tersebut dibentuklah kelompok tari Nyi Mas Gandasari. Tarian yang dibawakan membuat Pangeran Welang jatuh cinta dan bahkan rela untuk menyerahkan Curug Sewu.

Setelah menyerahkan pedangnya tersebut, kesaktian Pangeran Welang hilang dan ia pun memutuskan untuk mengabdikan hidupnya kepada Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan pergantian nama menjadi Pangeran Graksan.

Leave a Reply