3 Upacara Adat Suku Pamona Yang Masih Dilakukan - Sering Jalan

Tapi Ingat Pulang

kebudayaan, Budaya

3 Upacara Adat Suku Pamona Yang Masih Dilakukan

Upacara Moana

Upacara Moana - foto gnfi

Upacara Adat Suku Pamona – Suku Pamona merupakan suku asli Sulawesi Tengah yang bermukim di wilayah Kabupaten Poso.

Sebagian besar kelompok masyarakat ini memeluk agama kristen yang setiap hari minggu biasanya melakukan kebaktian di sebuah tempat ibadah terbesar Sulawesi Tengah yang berada di Kota Tentena Kabupaten Poso.

Baca juga :

upacara adat suku pamona

upacara adat suku pamona // gurupendidikan.co.id

Suku Pamona merupakan kelompok masyarakat tradisional yang menjunjung tinggi adat istiadat setempat.

Bahkan, sampai detik ini, ketika usia suku sudah lebih dari 129 tahun, ternyata masih ada beberapa upacara adat yang terus terlaksana. Berikut upacara-upacara adat yang dimaksud:

1. Upacara Pekasiwia

Pekasiwia

Pekasiwia – foto poltekes palu

Upacara Adat Suku Pamona yang pertama adalah upacara adat penyambutan tamu yang disebut upacara adat Pekasiwia.

Siapapun orang asing yang bertandang ke Kabupaten Poso, pasti disambut dengan upacara ini oleh masyarakat sebagai pertanda, kalau si tamu diperbolehkan atau tidak berkunjung ke Poso.

Jika upacara sudah selesai dilakukan, maka berarti izin tinggal sudah diberikan oleh masyarakat kepada si tamu tersebut.

Akan tetapi, tidak semua tamu disambut dengan upacara adat Pekasiwia melainkan tamu kehormatan saja seperti presiden, jenderal militer, menteri, dan orang-orang penting yang lainnya.

Menurut informasi yang beredar, Presiden Soekarno juga pernah disambut dengan Pekasiwia ketika presiden pertama RI ini berkunjung ke Poso pada tahun 1952.

Upacara adat Pekasiwia tidak berisi ritual penyambutan yang khusus, tetapi hanya penjamuan saja tetapi tidak asal makanan melainkan yang memang sesuai dengan acara adat.

Biasanya, makanan yang dihidangkan adalah beras putih halus dengan telur ayam, ayam jantan putih serta nira yang sangat manis.

2. Upacara Morambulangi, Upacara Adat Suku Pamona

Upacara Morambulangi

Upacara Morambulangi

Morambulangi merupakan Upacara Adat Suku Pamona yang cukup terkenal yang sering dilakukan oleh warga Kabupaten Poso.

Pada upacara ini, ketua adat akan melepaskan ayam putih yang dilanjutkan dengan meletakkan sirih, pinang, kepala dan hati hewan di atas perahu untuk diantarkan ke tengah laut.

Jika prosesi ini sudah selesai dilakukan, maka ketua adat akan menguburkan pakaian bekas yang pernah dipakai oleh laki-laki dan perempuan.

Upacara adat Morambulangi mengandung nilai filosofis yang cukup tinggi yang artinya, masyarakat tidak boleh mengingat masa lalu tetapi lebih berfokus ke masa depan.

Ritual ini juga dilangsungkan semata untuk memberikan solusi baru bagi suku yang berkonflik supaya kembali berdamai menjalin hubungan yang aman dan rukun.

Oleh sebab itu, sekalipun Morambulangi merupakan upacara adat Suku Pamona, tetapi warga dari suku lain biasanya diikutsertakan ke dalam ritual tersebut.

Terutama suku yang memang berseteru dikarenakan adanya pelanggaran adat, susila, sosial dan selainnya.

3. Upacara Moana

Upacara Moana

Upacara Moana – foto gnfi

Suku Pamona mempunyai satu upacara adat yang cukup sakral dan wajib dilakukan yang disebut upacara Moana.

Upacara Adat Suku Pamona Ini merupakan upacara penyambutan bayi yang baru lahir supaya senantiasa mendapatkan kesehatan serta rezekinya dimudahkan termasuk rizki kedua orang tuanya.

Upacara Moana sendiri terbagi menjadi dua sesi yaitu upacara pemotongan tumbuni (plasenta) dan ritual yang kedua dilangsungkan bersamaan dengan naiknya sang bayi ke ayunan yang masyarakat sekitar menyebutnya naik tumbu.

Untuk pemotongan tumbuni, biasanya orang tua si anak akan melangsungkannya ketika bayi baru lahir. Sedangkan kalau naik tumbu biasanya upacara berlangsung ketika bayi berusia 7 hari.

Keunikan Upacara Moana adalah orang tua yang akan memiliki anak harus mengundang satu orang keluarga dekat minimal 10 hari sebelum sang istri melahirkan.

Setelah itu, keluarga dekat tersebut akan melanjutkan kabar ke keluarga yang lain. Begitu seterusnya sampai semua keluarga dan tetangga mendapatkan undangan upacara Moana.

Sekalipun hanya ritual penyambutan bayi yang baru lahir, tetapi perlengkapan adat harus tetap tersedia terutama sirih dan pinang.

Tanpa dua tanaman ini, sakralitas dari upacara adat akan hilang bahkan bisa menjadi pergunjingan masyarakat.

Sedangkan perlengkapan tambahan selain sirih pinang juga cukup banyak seperti seperangkat parang, sembilu, telur ayam, ayam jantan putih, beras putih halus dan banyak lagi yang lainnya.

**

Itulah beberapa upacara adat Suku Pamona yang masih tetap lestari sampai saat ini.

Semoga apa yang sudah kami jabarkan di atas, bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Terutama bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari kebudayaan tradisional bangsa Indonesia.

Leave a Reply